Kami tidak lebih hanya para musafir kecil. Berjalan Keluar masuk melewati jalan-jalan di belantara mazhab. Di sini berhati-hatilah, siapa saja bisa tersesat dan berputar-putar dalam kesia-siaan. Banyak papan nama, baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Memilih jalan ini begitu mudah dan bahkan membanggakan bagi siapa saja yang tidak teliti. Akhirnya yang kami pilih adalah jalan dengan 'papan nama' yang sudah ada sejak lama. Inilah jalan kami, jalan ahlu al-sunnah wa al-jama'ah, jalan konservative, jalannya para pendahulu yang telah merintis dan menempuh jalan estafet dari Rasulullah SAW. Adapun jalan dengan papan nama yang baru dipasang kami ucapkan selamat tinggal. Biarkan kami memilih jalan ini, jalan tradisi Islam turun temurun yang sambung menyambung sanad: murid dari guru, dari guru, dari guru.... dari salafuna Shalih, dari tabi'ut tabi'in, dari tabi'in, dari sahabat, dari rasulullah Saw.
Inilah jalan kami.... Ahlussunnah Waljama'ah


Madain Soleh


thamud1.jpg
Madain” adalah kata majemuk dari Madinah yang artinya dalam bahasa Arab “Kota”. Adapun Soleh diambil dari nama nabi Saleh a.s. (صالح) merupakan salah seorang nabi dan rasul dalam Islam yang telah diutus kepada kaum Thamud. Dan Tsamud adalah suku bangsa Arab yang bertempat tinggal di suatu kota bernama “Al-Hijr” terletak antara Hijaz dan Syam. Mereka dari keturunan Sam bin Nuh as. Al-Hijr adalah sebuah perkampungan kaum Stamud yang dahulunya sangat subur dan makmur dengan semua kekayaan alam yang dimiliki mereka.  Dari kehebatan mereka Allah telah turunkan dalam al-Quran surat tersendiri namanya surat Al-Hijr. Rumah-rumah mereka didirikan di atas tanah yang rata dan dipahatnya dari gunung. Allah telah berfirman dalam surat Al-Hijir  “Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman”. Mereka diberikan Allah kenikmatan yang luar biasa, hidup mereka tenteram, sejahtera, dan bahagia, mereka merasa aman dari segala gangguan alam dan mengaku bahwa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berkorban, tempat mereka meminta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya pesuruh atau nabi untuk memberi penerangan dan memimpin kepada mereka agar keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan siksaan kepada suatu umat sebelum mereka diberi peringatan kepada mereka dan diutus kepada mereka seorang nabi yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasulNya.

Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah diutuskan nabi Saleh as seorang yang telah dipilihNya dari suku mereka sendiri, dari keluarga mereka sendiri, dari golongan mereka sendiri yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya. Beliau terkenal tangkas, cerdik, pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Nabi Soleh as mengajak kaumnya siang dan malam kepada jalan yang benar. Beliau berseru dan menganjurkan agar mereka segera meninggalkan penyembahan berhala dan percaya serta beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampunan kepadaNya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mereka lakukan.

Akan tetapi kaum Stamud menolak ajakan dan seruan beliau hanya sebahagian kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakannya terdiri dari orang-orang yang berkedudukan sosial lemah menerima dakwah nabi Saleh as dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian besar terutamanya mereka yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan membangkang serta menolak ajakan nabi Saleh as bahkan mengingkari kenabiannya.

Kaum stamud telah berusahan sekuat tenaga menghentikan usaha da’wah nabi Soleh as akan tetapi gagal dan tidak berhasil bahkan dilihatnya beliau semakin giat menarik mengikut pengikutnya yang telah berpihak kepadanya.  Para pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendapat perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mereka menentang Nabi Saleh dan meminta kepada nabi Soleh bukti mukjizat kebenaran kenabiannya dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Maka, berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina yang keluar dari sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka:

”Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah dia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah, dia mempunyai giliran untuk mendapatkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendapatkan minuman bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya apabila kamu mengganggu binatang ini.” 

Unta itu pun berjalan di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendapat gangguan. Dan pada hari-hari giliran unta itu datang minum, tiada seekor binatang lain berani menghampirinya. Hal ini menimbulkan rasa tidak senang pada yang lain dan merasakan bahwa adanya unta nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan bagi mereka. Maka timbulah niat busuk mereka untuk membunuh unta nabi Soleh.

Kaum Tsamud mulai mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh dan melenyapkan binatang itu dari atas bumi mereka. Dan bertambah semangatnya mereka untuk membunuhnya setelah muncul seorang janda bangsawan yang akan menyerah dirinya kepada siapa yang dapat membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu. Hadiah hadiah ini mengundang dua orang lekali Mushadda’ bin Muharrij dan Gudar bin Salif dengan bantuan tujuh orang lelaki lainnya membunuh unta nabi Soleh dalam perjalanannya ke tempat minum. Musadda’ memanah betis unta dan disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.

Nabi Saleh as sangat marah dan memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidur, wajah mereka menjadi kuning dan akan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.

Sehari sebelum turunnya azab yang telah ditentukan, nabi Saleh as berangkat bersama para pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestina, meninggalkan kota Al-Hijr. Kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Dari kisah di atas kita bisa memetik pelajaran yang menonjol bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dapat membinasakan masyarakat itu seluruhnya. Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur, bahkan tersapu bersih di atas bumi kerana dosa dosa beberapa gelintir manusia yang telah pembunuh unta nabi Saleh as.

Wallahua’lam

Ref: 
http://hasanalsaggaf.wordpress.com/category/4-hikmah-al-quran/madain-soleh/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kumpulan Mahalul Qiyam MP3

Al Quran Online