Kami tidak lebih hanya para musafir kecil. Berjalan Keluar masuk melewati jalan-jalan di belantara mazhab. Di sini berhati-hatilah, siapa saja bisa tersesat dan berputar-putar dalam kesia-siaan. Banyak papan nama, baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Memilih jalan ini begitu mudah dan bahkan membanggakan bagi siapa saja yang tidak teliti. Akhirnya yang kami pilih adalah jalan dengan 'papan nama' yang sudah ada sejak lama. Inilah jalan kami, jalan ahlu al-sunnah wa al-jama'ah, jalan konservative, jalannya para pendahulu yang telah merintis dan menempuh jalan estafet dari Rasulullah SAW. Adapun jalan dengan papan nama yang baru dipasang kami ucapkan selamat tinggal. Biarkan kami memilih jalan ini, jalan tradisi Islam turun temurun yang sambung menyambung sanad: murid dari guru, dari guru, dari guru.... dari salafuna Shalih, dari tabi'ut tabi'in, dari tabi'in, dari sahabat, dari rasulullah Saw.
Inilah jalan kami.... Ahlussunnah Waljama'ah


Mengucapkan Sayyidina Muhammad bukan Bid'ah

Ada hadis yang mengungkapkan kata-kata "Sayyid" sebagai berikut:

اَلسَّيِّدُ اللهُ
"Sayyid adalah Allah"

Asal muasal (asbabul wurud) hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud tersebut berasal dari cerita seorang laki-laki yang datang kepada Rasulallah dan berkata kepada beliau "Engkau adalah sayyidnya orang-orang Quraisy" Lalu Rasulallah menjawab perkataan laki-laki tersebut dengan sabda sebagaimana dalam hadits di atas. 

Hadits tersebut kerap di buat dalil oleh sebagian kalangan untuk membid'ahkan ucapan sayyidina saat nama Nabi Muhammad di sebut dan di katakan bahwa kata sayyidina tersebut tidak boleh di ucapkan sebagai panggilan kepada makhluk selain Allah. Pernyataan seperti itu adalah pernyataan batil yang bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah yang mutawatir.

Dalam al-Qur'an surat Ali Imran: 39 terdapat kata sayyid yang di sebutkan untuk Nabi Yahya. Surat Yusuf: 25 terdapat kata sayyid yang di sebutkan untuk al-Aziz (mantan suami Zalikha', istri Nabiyullah Yusuf) dan dalam surat al-Ahzab: 67 terdapat kata sadatina (jama' dari kata sayyid) untuk pimpinan orangfi-orang kar.

Sedangkan dalam hadits Rasulallah riwayat al-Bukhari (hadits no: 4712), Muslim (hadits no: 194) dan lain-lain di sebutkan:

اَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
"Aku adalah sayyidnya anak Adam"

Dalam al-Bukhari (hadits no: 7204) juga di sebutkan:

إِنَّ ابنِْي هَذَا سَيِّدٌ
"Sungguh anakku (cucu ) ini adalah sayyid"

Dan hadits-hadits lain yang menyebutkan tentang di perbolehkannya menisbatkan kata sayyid kepada selain Allah, seperti dalam al-Bukhari (hadits no: 6286 dan 3043), Ahmad (hadits no: 10616), Muslim (hadits no: 2249) dan lain-lain .

Lalu bagaimana menjawab hadits Nabi yang mengatakan bahwa sayyid adalah Allah? Al-Khaththabi memberikan jawaban bahwasannya derajat siyadah (sayyid) secara haqiqat hanya di miliki oleh Allah dan semua makhluk adalah hamba-Nya. Akan tetapi Rasulallah melarang seorang laki-laki menyebut beliau sebagai sayyid yang padahal Rasulallah sendiri adalah sayyidnya keturunan Adam (Bani Adam) adalah karena laki-laki tersebut memeluk Islam belum lama dan dia punya penyangkaan bahwa derajat siyadah sebab pangkat kenabian di anggap sama seperti siyadah dalam pangkat urusan duniawi, lantaran dia mempunyai seorang pimpinan yang di agungkan dan di taati perintahnya. Maksud dari yang di sampaikan al-Khaththabi tersebut adalah supaya laki-laki tersebut tidak menyamakan menyebut sayyid karena pangkat kenabian dengan di samakan dengan sayyid dalam urusan pimpinan dunia.

Sedangkan menurut al-Hafizh al-Ghumari, bahwa kata sayyid menurut bahasa mereka bisa di ucapkan untuk beberapa arti, bisa untuk makhluk, untuk Allah yang haqiqi, orang yang tinggi pangkatnya dalam satu kaum, seorang pimpinan yang terhormat, seorang yang penyabar dan lapang dada yang tidak cepat-cepat marah, seorang yang dermawan dan mulia atau suami. Dan ketika laki-laki dalam hadits mengucapkan "engkau adalah sayyid" maka Rasulallah khawatir jika yang di i'tikadkan adalah sayyid secara haqiqi, yaitu Allah, lantaran laki-laki tersebut adalah orang yang baru mengenal agama Islam, kaidah-kaidahnya serta hal-hal yang wajib bagi Allah dan yang boleh. Maka Rasulallahpun mengingatkannya bahwa sayyid yang haqiqi adalah Allah.

Adapun hadits tentang pelarangan mengucapkan sayyid untuk Rasulallah di dalam shalat, yaitu:

لاَ تُسَيِِّدُوِنِي فِي الصَّلاَةِ
"Janganlah kalian mengucapkan Sayyid kepadaku di dalam shalat"

Adalah hadits maudhu' atau palsu sebagaimana kesepakan ahli hadits seperti as-Suyuthi dalam al-Hawi Lil Fatawi, al-Ajluni dalam Kasyf al-Khafa', as-Sakhawi dalam al-Maqashid dan lain-lain. Selain dari pada itu, lafazh teks haditsnya juga salah menurut ilmu Arabiyyah (sharaf) dan sangat jelek yang sangat tidak layak keluar dari mulut Rasulallah yang mulia.

Lalu apakah saat menyebut nama Rasulallah ada anjuran mengucapkan sayyidina yang padahal Rasulallah sendiri tidak pernah menyebutkan kata tersebut saat memberikan ajaran shalawat? Jawabnya adalah:

1. Memanggil nama Rasulallah dengan Muhammad adalah di larang agama, sebagaimana telah maklum dalam kitab-kitab ulama salaf serta tercatat langsung dalam al-Qur'an

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain) (surat an-Nur: 63). 

Dan atsar dari para shahabat Rasulallah. Karena umat Muhammad di wajibkan beradab dan bertata krama saat memanggil nama beliau.

2. Qadhi Iyadh dalam Tasynif al-Adzan hal. 88 mengatakan bahwa penambahan kata sayyid atau maula (saat nama Rasulallah di sebut) adalah baik, karena hal itu termasuk bagian dari memulyakan dan mengagungkan beliau. Ketetapan ini juga di dukung oleh Imam ar-Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj dan ulama-ulama lain.

3. Melarang dan mengharamkan mengucapakan kata sayyidina kepada Rasulallah atau yang lain tidak ada dalilnya baik al-Qur'an, Sunnah atau atsar shahabat. Apalagi sampai mengatakan batal shalatnya jika mengucapkan kata sayyidina ketika bershalawat kepada Rasulallah dalam shalat.

4. Kitab-kitab ulama madzhab Hanafi, Malik dan asy-Syafi'i menyepakai di syari'atkannya menambahi kata siyadah (sayyid) saat bershalawat kepada Rasulallah sebagai bagian mengagungkannya. Hal ini di dasari satu argumen bahwa mendahulukan jalan adab (suluk al-adab) lebih baik dari pada mengikuti perintah (yaitu shalawat yang di ajarkan Rasulallah tanpa kata sayyidina).



Mbah Jenggot, Pengasuh Pustaka Ilmu Sunniyah Salafiyah (PISS-KTB) http://www.facebook.com/note.php?note_id=386800628099

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kumpulan Mahalul Qiyam MP3

Al Quran Online