Kami tidak lebih hanya para musafir kecil. Berjalan Keluar masuk melewati jalan-jalan di belantara mazhab. Di sini berhati-hatilah, siapa saja bisa tersesat dan berputar-putar dalam kesia-siaan. Banyak papan nama, baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Memilih jalan ini begitu mudah dan bahkan membanggakan bagi siapa saja yang tidak teliti. Akhirnya yang kami pilih adalah jalan dengan 'papan nama' yang sudah ada sejak lama. Inilah jalan kami, jalan ahlu al-sunnah wa al-jama'ah, jalan konservative, jalannya para pendahulu yang telah merintis dan menempuh jalan estafet dari Rasulullah SAW. Adapun jalan dengan papan nama yang baru dipasang kami ucapkan selamat tinggal. Biarkan kami memilih jalan ini, jalan tradisi Islam turun temurun yang sambung menyambung sanad: murid dari guru, dari guru, dari guru.... dari salafuna Shalih, dari tabi'ut tabi'in, dari tabi'in, dari sahabat, dari rasulullah Saw.
Inilah jalan kami.... Ahlussunnah Waljama'ah


Adab Di Hadapan Wali (Syech Abubakar bin Salim)

Di dalam qoshidah “Uktum Hawana” karya Syech Abubakar bin Salim terdapat bait-bait berikut ini :
Simpanlah apa yang aku senangi, jika kamu mengharapkan ridhoku. Jangan sampai disebar-sebarkan rahasiaku kepada orang selain kami.
Kami disini yang dimaksud para auliya’, dan Syech Abubakar bin Salim sulthonuhum.
Kamu harus tawadhu’ kepada kami kalau kamu ingin berhubungan dengan kami. Tinggalkan segala keinginan kamu kalau kamu ingin keinginanku .
Jadi dihadapan auliya’ harus kosong, tidak ada kibr sedikitpun, harus tawadhu’ Jangan ingin macem-macem. Akhirnya kamu nggak dapet berkah. Baghoina fulus, bghoina tajir, pengen uang banyak, jangan minta apa-apa ! Nanti dia akan mengisi sebagaimana yang dia harapkan. Harapan kamu itu harapan remeh. Harapan dia untuk kamu adalah harapan yang besar. Jangan nt berharap bagaimana nt dapet uang banyak, riziqnya banyak, ininya ini, kosongkan hati kamu, baru nanti akan diisi asror oleh mereka.
Kenapa? Harapan dia untuk diri kamu, yang diharapkan oleh auliya’, yang diinginkan auliya’ untuk diri kamu itu lebih besar dari apa yang diharapkan kamu untuk diri kamu. Jadi dihadapan mereka diem aja. Ahsan nt jadi tong kosong. Tong kosong tapi jangan nyaring bunyinya.. Jadi perlu untuk farogh, perlu bersih hati. Jangan berharap apa-apa.
Ana kepingin ini, kepingin itu, ndak usah kepingin sudah.. Buang itu kepingin ! Tapi katakan dalam hati kamu : ana kepingin yang diingini oleh wali ini. Ana kepingin apa yang dikepingini oleh orang ‘arif ini, nt akan sampai seperti mereka nanti.
Abu Yazid al-Busthomy dia berkata : “Lau I`taqodtum anna al-bissa ta`kulu al-faaroh bighoiri idznii, maa ahsantumudz dzonn bii.” “Wahai santriku, kalau seandainya kamu masih meyakini ada kucing makan tikus bukan karena perintahku, bukan karena idzinku, berarti kamu masih belum husnudz dzon kepadaku.”
Pasrah total aja kalau sama auliya’. Kalau disuruh nyebur sumur, nyebur. Seperti Syech Umar Bamakhromah dengan Syech Abdurrahman Al-Akhdhor, disuruh ngelemparkan diri dari gunung. Kepingin asror, kepingin sir gitu, nggak gampang.. “Harus ujian.” “ya kher.” “Siap ente diuji ?” “Siap”. Ente naik ke gunung lemparkan diri ente dari atas gunung. Kalo kita khan berfikir : “Maghrum..” Harus dibuang itu segala keraguan segala keinginan kalau kepada syaikhul ‘arif. Sampai diatas, ia liat batu-batuan dibawahnya, merem trus dilemparkan dirinya. Tidak ada lecet meskipun sedikit. Datang kepada gurunya, ditanya “Terbuka mata atau merem ? “ “Merem.” Disuruh balik lagi dengan mata terbuka. Jadi nggak gampang.
Justru itu kalo dihadapan seorang wali, jangan punya keinginan apa-apa. Harapkan dari kamu : ana ingin seperti apa yang diingini wali itu, nanti akhirnya mendapatkan sesuatu yang besar.. (Dikutip dari Rouhah Ustadz Taufik Assegaf Pasuruan)
Sumber : http://www.arroudloh.net/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kumpulan Mahalul Qiyam MP3

Al Quran Online