Kami tidak lebih hanya para musafir kecil. Berjalan Keluar masuk melewati jalan-jalan di belantara mazhab. Di sini berhati-hatilah, siapa saja bisa tersesat dan berputar-putar dalam kesia-siaan. Banyak papan nama, baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Memilih jalan ini begitu mudah dan bahkan membanggakan bagi siapa saja yang tidak teliti. Akhirnya yang kami pilih adalah jalan dengan 'papan nama' yang sudah ada sejak lama. Inilah jalan kami, jalan ahlu al-sunnah wa al-jama'ah, jalan konservative, jalannya para pendahulu yang telah merintis dan menempuh jalan estafet dari Rasulullah SAW. Adapun jalan dengan papan nama yang baru dipasang kami ucapkan selamat tinggal. Biarkan kami memilih jalan ini, jalan tradisi Islam turun temurun yang sambung menyambung sanad: murid dari guru, dari guru, dari guru.... dari salafuna Shalih, dari tabi'ut tabi'in, dari tabi'in, dari sahabat, dari rasulullah Saw.
Inilah jalan kami.... Ahlussunnah Waljama'ah


Syaik Ali Baros dan Sayyidina al-Imam al-Quthbul Anfas al-Habib Umar bin Abdurrahman al-’Atthas


Mencintai Apa Yang Di Cintai-Nya Akan Menyampaikan Kita Kepada Cinta-Nya: Kisah asy-Syaikh ‘Ali Barasy dan Gurunya, Sayyidina al-Imam al-Quthbul Anfas al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-’Atthas Ra (Shohibur Ratib al-’Atthas, Huraidhah-Hadramaut.)
Oleh: Sayyidil Walid al-Habib Rofiq bin Luqman al-Kaff

al-Habib Umar al-’Atthas RA berkata, “Siapapun yang mengirimkan Fatihah kepadaku tanpa menyebutkan Syekh Ali Barasy, fatihahnya tidak akan ku terima.” Ini karena sayangnya beliau kepada muridnya, Syekh Ali Barasy.
Sekali waktu, Syekh Ali Barasy sedang memijat gurunya. Waktu itu berkumpul juga murid-murid beliau yang lain. Tiba-tiba datang seorang badui, tanpa berkata-kata badui ini mencium tangan beliau kemudian pergi. Murid-murid beliau yang melihat kejanggalan ini bertanya kepada Habib Umar al-’Atthas, “Siapa orang badui tadi..? Datang hanya untuk mencium tangan Antum, kemudian pergi.”
Jawab Beliau, “Itu adalah Nabi Khidir As, beliau masih berada di pasar itu, di dekat masjid itu, kalau kalian ingin menemuinya.”
Semua murid beliau dengan serta merta berhamburan mencari Nabi Allah Khidir As, hanya satu dari murid beliau yang masih tinggal menemani beliau yaitu, Syekh Ali Barasy.
Habib Umar bertanya kepada Syekh Ali, “Yaa ‘Ali, kenapa engkau masih di sini..? Tidak mencari Nabi Khidir As..?”
Jawab Syekh Ali, “Yaa Habib Umar, Nabi Khidir As saja mencari Antum, untuk apa aku mencari Nabi Allah Khidir As..?”
Demikian contoh, kecintaan yang benar terhadap orang yang benar, dan di tunaikan dengan cara yang benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kumpulan Mahalul Qiyam MP3

Al Quran Online