Kami tidak lebih hanya para musafir kecil. Berjalan Keluar masuk melewati jalan-jalan di belantara mazhab. Di sini berhati-hatilah, siapa saja bisa tersesat dan berputar-putar dalam kesia-siaan. Banyak papan nama, baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Memilih jalan ini begitu mudah dan bahkan membanggakan bagi siapa saja yang tidak teliti. Akhirnya yang kami pilih adalah jalan dengan 'papan nama' yang sudah ada sejak lama. Inilah jalan kami, jalan ahlu al-sunnah wa al-jama'ah, jalan konservative, jalannya para pendahulu yang telah merintis dan menempuh jalan estafet dari Rasulullah SAW. Adapun jalan dengan papan nama yang baru dipasang kami ucapkan selamat tinggal. Biarkan kami memilih jalan ini, jalan tradisi Islam turun temurun yang sambung menyambung sanad: murid dari guru, dari guru, dari guru.... dari salafuna Shalih, dari tabi'ut tabi'in, dari tabi'in, dari sahabat, dari rasulullah Saw.
Inilah jalan kami.... Ahlussunnah Waljama'ah


Kenapa kita belajar ilmu hikmah?

Ilmu hikmah menurut saya adalah ilmu untuk menarik mamfaat dan menolak mudharat yang Allah letakkan pada alam, karena Allah itu sendiri addarru dan annafi’u. dalam tafisr sawi dijelaskan Allahlah yang menyampaikan mamfaat dan mudarat kepada hambanya, dari segi hakikat, namun dari segi sebab, ada yang yang jadi sebab mamfaat seperti nasi, air, buah buah, ada juga yang jadi sebab mudharat seperti ular, singa, perampok, penyakit, dll yang tak terhitung jumlahnya. Nah ketika kita kenyang dengan nasi maka Allah yang memberi mamfaat, nasi hanyalah sebab mamfaat, ketika seseorang dipatuk ular, maka Allah yang member mudharat, ular hanyalah sebab mudharat, ingat rukun iman yang keenam, berimam kepada qadar baik dan buruk itu dari Allah. Tetapi sekalipun mudharat itu dari Allah haram kita mengatakan bahwa Allah yang memberi mudharat kepadaku bukan ular, ingat haram mengatakan, tapi mengitiqadkan wajib dari Allah, jelas berbeda hukum itiqad dengan hukum mengatakan?. Kenapa haram mengatakan?. Karena itu menyalahi adab dengan tuhan, bukankah Allah mengajarkan adap kepada kita kalau kebaikan itu dari Allah dan keburukan itu dari kita sendiri, padahal dalam hadist semua baik dan buruk itu dari Allah, bahkan allah mengatakan dialah pencipta segala sesautu. Disinilah tidak setiap kebenaran boleh dikatakan. Misalnya orang tua kita kena penyakit kurap, lalu kita buat pengumuman dimesjid bahwa orang tua kita berkurap, kalau mereka tidak percaya boleh mengecek langsung, nah perkataan ini adalah benar substansinya bahwa orang tuanya berkurap namun kurang ajar ketika mengatakan kepada masyarakat orang tuanya berkurap. Seperti mengatakan alquran terjemahan adalah makhluk bukan qalam Allah, maka ini adalah bid’ah dalalah yang tidak pernah dikatakan nabi dan sahabat bahwa mashaf atau lafaz yang kit abaca adalah makhluk, ia tetap harus dikatakan kalam Allah karena madlul lafaz quran dengan madlul kalamnya pada azali adalah satu, yakni bila kita paham dari alquran ayat aqimishalaah, dirikan olehmu akan sahalat, maka andai dibuka hijab kalam azali maka kita akan menemukan perintah shalat juga. Lebih dalam pelajari kitab kitab tauhid asy;ary khusus pada sifat kalam. Nah dari segi aqidah semua dari Allah tak ada satupun yang bukan darinya. Adapun selainnya hanyalah sebab mamfaat dan mudarat saja. Misalnya seorang sakit demam. Demam adalah mudharat sebabnya bisa banyak sekali, bisa karena disihir, digangu jin, keletihan, salah makan, dan sebagainya. Maka demam sebagai mudharat harus dihilangkan, maka deman itu ada beberapa sebab yang bisa mengilangkannya. Meminum darah hewan seperti kalelawar Dirajah sama dukun sihir dan mantranya Diberi pil anti deman oleh dokter Diberi jamu herbal oleh tabib Diruqyah dengan asma, ayat , dan doa dengan berbagai metode. Nah ternyata deman yang merupakan mudharat iitu bisa ditolak dengan darah hewan, rajah sihir, pil, jamu, dan ruqyah. Jadi semua itu adalah sebab untuk menolak kemudharatan deman, dan ini dalah fakta yang tidak bisa kita bantah. Namun dari sisi itiqad wajib kita percaya bahwa kesembuhan itu dari Allah dengan ilmu, iradah, dan qudrahnya. Bukan dengan darah, mantra, pil, jamu, ruqyah. nah dari contoh diatas telah kita bahas sisi hukum akal (aqidah) dan hukum adad (kebiasaan yang berulang ulang terjadi pada mayoritas orang). Nah bagaimana dari segi syariat? Yang bersumber dari alquran dan hadist, ijmak dan qiyas?? Kesembuhan dengan darah dan mantra adalah haram dan berdosa mencari kesembuhan dengan jalan itu. Kesembuhan dengan pil dan jamu hukumnya boleh namun tidak berpahala mencari kesembuahn seperti itu, kecuali dapat pahala niat, bila diniatkan berobat dengan jamu dan obat agar ia mudah beribadah, Kesembuhan dengan asma, ayat, dan doa maka hukumnya sunat, bahkan kadang bisa wajib, yang bia ia meninggal ia alan dibalas dengan syurga, tampa kita melihat kepada amalannya yang lain. nah kesembuhan dengan asma dan ayat serta doa inilah yang menjadi ruang lingkup ilmu hikmah, kita mengkaji asmaul husna mana yang berfungsi menolak mudarat dan menarik mamfaat, begitu juga mana ayat yang berfungsi menarik mamfaat dan menolak mudarat. Sama seperti manusia mengkaji unsur alam pada tumbuhan hewan untuk ditarik mamfaat dan ditolak mudarat. Contoh ayat basmalah. Kita ingin menarik mamfaat cinta kasih diantara suami istri yang selama ini tidak rukun dan damai, dibacakan dengan jumlah tertentu kepada air lalu diminumkan, insya Allah dinatara beberapa ibu majlis ta’lim yang saya beri amalan ini suaminya Nampak perubahan signifikan. Teknik hikmah dengan basmallah ini cocok bagi orang miskin dan kaya. Namun ada juga teknik orang kaya menarik mamfaat cinta istrinya dengan cara diberi uang yang banyak, diberikan rumah, mobil, baju baru yang wah, lalu diajak berlibur keeropa, maka tidak diragukan isrti seperti ini akan mencintai suaminya dan tidak rencana meninggalkannya bila suaminya juga bersikap baik dan tidak kasar, tapi teknik ini tidak cocok bagi orang miskin jangankan beli rumah, uang sewarumah aja kadang telat, ha ha ha. Contah lainya kita ingin menolak mudarat kurang cerdas pada anak kita, kita baca basmallah sekian kali pada air dan kita beri air itu pada anak kita 7 hari sebalum fajar, dan ajaib anak kita akan berubah menjadi lebih baik dalam pola perfikirnya, namun hasilnya berbeda menurut kesungguhan yang membaca basmallah air itu. Dan tekhnik hikmah ini cocok bagi orang kaya dan miskin. Adapun bagi orang kaya untuk menghilangkan mudharat kurang cerdasia bisa membeli makanan bergizi tinggi, memasukkan kesekolah favorit, membawa kebimbingan belajar, memberi multivitamin yang haraganya wah, danmenyediakan fasilitas yang cukup. Hingga mudarat kurang cerdas jadi hilang, tapi bagi orang miskin jangankan beli makanan bergizi, kadang untuk masak sayur kangkung aja harus ambil sendiri diselokan parit, ha ha ha kapan anknya bisa pintar. Nah inilah ilmu hikmah, dengan mengunakan ayat dan asma serta doa. Semua mamfaat bisa ditarik dan bisa ditolak mudaratnya. Contoh seorang kyai tidak mencari rezeki, ia hanya focus mengajar dengan maksimal, ia hanya mewiridkan ayat dan asma untuk mudah rezeki, hasilnya, sedekah tak terduga yang tidak pernah diminta dan dan diharap dating dari segenap penjuru. Beda dengan kebanyakn orang bersusah payah sekolah, sd, smp, smu, kuliah, sogok, kerja, habis waktu samapi 16 tahun cari pendidikan formal belum lagi dosa masa muda, eh gajinya Cuma 2 juta sebulan, lha kiyai 16 tahun belajar dipesantren jadwal dakwah dan mengajar dan lainnya, bisa sampai 5 juta sebulan, padahal ia tak punya kerja apa apa, hanya mengajar dan mengajar itu tidak diniatkan untuk cari uang, tapi uang dating sendir berkat ayat dan asma yang diamal sang kiyai, ha ha ha Sudahlah jangan ragu belajar ilmu hikmah, disamping berpahala mengamalkannya hasilnya jauh llebih murah dari pada hidup seperti kebanyakan orang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kumpulan Mahalul Qiyam MP3

Al Quran Online