Kami tidak lebih hanya para musafir kecil. Berjalan Keluar masuk melewati jalan-jalan di belantara mazhab. Di sini berhati-hatilah, siapa saja bisa tersesat dan berputar-putar dalam kesia-siaan. Banyak papan nama, baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Memilih jalan ini begitu mudah dan bahkan membanggakan bagi siapa saja yang tidak teliti. Akhirnya yang kami pilih adalah jalan dengan 'papan nama' yang sudah ada sejak lama. Inilah jalan kami, jalan ahlu al-sunnah wa al-jama'ah, jalan konservative, jalannya para pendahulu yang telah merintis dan menempuh jalan estafet dari Rasulullah SAW. Adapun jalan dengan papan nama yang baru dipasang kami ucapkan selamat tinggal. Biarkan kami memilih jalan ini, jalan tradisi Islam turun temurun yang sambung menyambung sanad: murid dari guru, dari guru, dari guru.... dari salafuna Shalih, dari tabi'ut tabi'in, dari tabi'in, dari sahabat, dari rasulullah Saw.
Inilah jalan kami.... Ahlussunnah Waljama'ah


Dialog Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. dengan seorang Yahudi (Bagian III-Akhir)

Bismillahirrohmanirrohim
9. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa AS.

Orang Yahdui berkata : “Lihatlah Nabi Musa bin Imran as. karena Allah telah memberinya Taurat yang memuat hukum-hukum.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Nabi Muhammad SAW telah diberi surat al-Baqarah dan al-Maidah yang sama dengan Kitab Injil, beliau juga diberi surat Thawasin (surat-surat yang didahului dengan huruf Tha, Sin), surat Thaha, sebagian surat-surat al-Mufashshal (yang sedang sehingga sering dipisah-pisah) dan al-Hawamim (surat-surat yang dimulai dengan Ha, Mim) yang sama dengan kitab Taurat, beliau juga diberi sebagian surat-surat al-Mufashshal dan surat-surat yang didahului dengan Shabbaha yang sama dengan kitab Zabur; beliau diberi surat Bani Israil dan surat Bara’at yang sama dengan shuhuf Ibrahim AS dan shuhuf Musa AS, kemudian Allah SWT menambah beliau dengan as-Saba’ ath Thiwal (tujuh surat yang terpanjang) dan surah al-Fatihah.”
Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Nabi Musa AS dipanggil untuk bermunajat kepada Allah di atas bukti Sina.”
Sayyidina Ali berkata, ‘Ya itu benar. Allah telah mewahyukan kepada Muhammad SAW di Sidratul Muntaha. Kedudukan beliau di langit terpuji dan di Sidharatul Munthaha beliau disebut-sebut.
Orang Yahudi berkata, “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS Thaha, 39). Allah telah memberikan kasih sayang kepada Musa AS.’
Sayyidina Ali menjawab,”itu benar, tetapi Allah telah memberikan kepada Nabi Muhammad SAW sesuatu yang lebih mulia dari itu. Selain Allah memberikan kasih sayang kepadanya, Dia juga telah menyertakan nama Muhammad dengan nama-Nya sehingga syahadat tidak sempurna kecuali dengan ungkapan, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Ikrar itu disebut-sebut di atas mimbar, maka tidak dikumandangkan sebutan Allah kecuali dikumandangkan pula sebutan Muhammad SAW.’
Orang Yahudi berkata, ‘Nabi Musa AS telah diutus untuk menghadapi Fir’aun dan memperlihatkannya kepadanya tanda yang besar.”
Sayyidina Ali berkata : “Itu benar, Nabi Muhamamd SAW juga diutus untuk menghadapi beberapa Fir’aun, seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah, Abi al0Bukhari, Nidhir bin Harits, Ubai bin Khalaf, dan diutus kepada lima orang yang dikenal dengan para pengolok, al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi, al-‘Ash bin Wa’il al-Suhami, Aswad bin Abd Yaghuts az Zuhri, Aswad bin al-Muthalib dan al-Harits bin Thalathilah. Maka beliau memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda yang besar di alam raya ini dan di dalam diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Dia itu benar.”
Orang Yahudi berkata, “sesungguhnya Musa bin Imran telah diberi tongkat yang berubah menjadi seekor ular.”
Sayiddina Ali menjawab, ‘Ya itu benar, Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuati yang lebih hebat daripada itu. Pernah ada seseorang yang menuntut hutang kepada Abu Jahal bin Hisyam seharga seekor kambing yang dia beli dari orang itu. Tetapi Abu Jahal tidak memperdulikannya. Dia tengah asyik duduk sambil minum-minuman keras. Setiap kali orang menagihnya, tetapi tidak berdaya sama sekali dan selalu diacuhkan oleh Abu Jahal. Beberapa orang disekitar itu berkata kepada orang tersebut sambil menghina, “siapa yang kamu tagih?”
“Amr bin Hisyam (abu Jaha). Dia mempunyai hutang kepadaku,” Mereka berkata, “Maukah kami tunjukkan orang yang mampu menjalankan hak-hak?” Orang itu berkata ‘Ya.” Mereka lalu menunjukkan Nabi Muhammad SAW.
Pada saat Abu Jahal mengetahui rencana orang tersebut yang meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Jahal berkata dalam hatinya, “Mudah-mudahan Muhammad datang kepadaku dan membutuhkanku, sehingga aku dapat mempermalukannya.” Orang yang sedang menuntut haknya itu datang kepada Nabi Muhammad SAW seraya berkata, “Wahai Muhammad, aku mendengarkan bahwa hubungan antara dirimu dengan Amr bin Hisyam baik. Aku datang minta bantuan dirimu.” Kemudian beliau pergi bersamanya manghadap Abu Jahal. Beliau berkata,’Bangunlah wahai Abu Jahal. Berikan kepada orang ini haknya.’ Lalu Abu Jahal segera bangun dan memberikan kepada orang haknya. Ketika Abu Jahal kembali ketempat semula, teman-temannya berkata, ‘Kamu mengerjakan itu karena taku kepada Muhammad?’, Abu Jahal berkata, ‘Celaka kalian, maafkan aku. Sesungguhnya ketika dia datang, aku lihat di sebelah kanannya orang-orang yang membawa pisau yang bersinar dan disebelah kirinya ada dua ekor ular yang menampakkan giginya dan dari matanya keluar sinar. Sekiranya aku menolak, maka perutku tidak aman dari tikamannya dan aku akan diterkam ular itu, dan itu lebih berat bagiku daripada memberikan hak.’
Ketika Nabi Muhammad SAW mengajak ketauhid dan menyalahkan kemusyrikan, para tokoh kaum musyrikin marah, lalu Abu Jahal berkata, “Demi Allah mati lebih baik bagi kita daripada hidup. Tidak adakah diantara kalian, wahai kaum Quraisy, seorang yang akan membunuh Muhammad?” Mereka menjawab, ‘Tidak ada.’ “kalau begitu saya yang akan membunuhnya,’ Seandainya keluarga Abdul Muthalib akan menuntut balas, biarlah aku yang terbunuh, kata Abu Jahal. Mereka lalu berkata, “Sesungguhnya jika kamu melakukan itu, maka telah berbuat kebaikan yang akan selalu diingat.”
Kemudian Abu Jahal pergi ke Masjid al-Haram dan melihat Rasulullah SAW berthawaf sebanyak tujuh putaran, kemudian beliau sholat dan sujud sangat lama. Kemudian Abu Jahal mengambil batu dan membawanya ke arah kepala Nabi Muhammad SAW, ketika dia telah mendekatinya, datanglah unta jantan dari arah beliau dengan membuka mulutnya ke arah Abu Jahal. Melihat itu, Abu Jahal ketakutan dan diapun gemetaran, maka batu itu jatuh melukai kakinya, kemudian dia pulang dengan muka yang pucat dan berkeringat. Kawan-kawannya bertanya, ‘Kami tidak pernah melihat kamu seperti sekarang ini.” Abu Jahal berkata, ‘Maafkan aku, aku sungguh melihat unta jantan yang membuka mulutnya dari arah Muhammad, ia hampir menelanku, maka aku lempar batu itu dan mengenai kakiku.”
Orang Yahudi berkata, “Nai Musa AS telah diberi tangan yang keluar darinya cahanya putih. Apakah Muhammad mempunyai hal seperti itu?”
Sayiddina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya terpancar dari sebelah kanan dan sebelah kirinya cahaya setiap kali beliau duduk. Cahaya itu disaksikan oleh semua orang.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Musa dapat membuat jalan di laut. Apakah Muhammad dapat berbuat semacam itu?”
Sayyidina Ali menjawab, “Itu benar, Nabi Muhammad SAW telah berbuat sama. Ketika kami keluar dalam perang Hunain, kami menghadapi danau yang kami perkirakan sedalam empat belas kaki dari ketinggian badan manusia. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, musuh di belakang kita sedangkan danau di depan kita, seperti yang dikatakan kaum Nabi Musa AS, ‘Kita akan terkejar.’ Lalu Rasulullah SAW turun dan berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau jadikan untuk setiap utusan sebuah bukti, maka perlihatkanlah kepadaku kekuasaan-Mu.” Kemudian kami mengurangi lautan dengan menunggangi kuda dan unta yang kakinya tidak basah. Lalu kami pulang dengan kemenangan.
Orang Yahudi berkata, “Nabi Musa AS telah diberi batu, kemudian batu itu mengeluarkan dua belas mata air.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Ketika Nabi Muhammad SAW turun di Hudaibiyah dan diboikot oleh penduduk Mekah, beliau diberi sesuatu yang lebih hebat dari itu. Pada waktu itu, sahabat-sahabat beliau mengadu kepada beliau. Mereka kehausan sehingga pangkal tulang kuda mereka menonjol. Kemudian beliau mengambil kain Yaman dan meletakkan tangannya di atas kain itu, lalu keluarlah air di sela-sela jari jemari beliau. Kamu merasa kenyang demikian pula kuda-kuda kami, bahkan kami penuhi kantong-kantong air.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Musa AS telah diberli burung dan manisan dari langit (al manna wa salwa’). Apakah Muhammad juga diberi sesuatu sama seperti itu?”
Sayidinna Ali berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW diberi seuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya Allah SWT menghalalkan harta rampasan perang untuk beliau dan umatnya, dan tidak dihalalkan untuk siapa pun sebelumnya. Dan ini lebih utama dari manna dan salwa’. Kemudia lebih dari itu, Allah SWT menganggap niat beliau dan umatnya sebagai amal kebaikan, dan tidak menganggapnya amal kebaikan untuk seseorang sebelum beliau. Oleh karena itu, jika seseorang hendak berbuat kebaikan tapi belum mengerjakannya, maka ditulis untuknya suatu kebaikan, dan jika dia mengerjakannya, maka ditulis sepuluh kebaikan.”
10. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Dawud AS.
Orang Yahudi berkata : “Lihatlah Nabi Dawud AS, sebab Allah telah memberinya kekuatan untuk melunakkan besi, kemudian dengan kekuatannya dia membuat baju besi.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhamamd SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Allah telah memberiya kekuatan untuk membuat gua dari batu gunung yang keras. Batu Shakhrah di Baitu Maqdis menjadi cekung dengan tangan beliau, dan kami telah melihatnya.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Dawud AS menagis karena kesalahan dan kekhilafannya sehingga gunung bergetar karena takut tangisan darinya.”
Sayyidina Ali berkata, “Iya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya beliau jika mendirikan sholat, terdengar dari dadanya suara gemuruh seperti gemuruh bejana yang berisi air panas yang mendidih karena isak tangisnya yang sangat, padahal Allah telah membebaskannya dari siksa-Nya. Beliau berdiri sholat di atas kakinya puluhan tahun sehingga bengkak kedua telapak kakinya dan pucat pasi wajahnya. Beliau sholat sepanjang malam sehingga Allah menegurnya.’
Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (QS Thaahaa, 1-2)
Terkadang beliu menangis sampai pingsan, seorang bertanya kepadanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Benar. Namun tidakkah aku pantas menjadi hamba yang banyak bersyukur.”
11. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Sulaiman AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Sulaiman AS, karena dia telah diberi kerajaan yang tidak layak diberikan kepada siapapun setelahnya.”
Sayyidina Ali berkata : “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Telah turun kepada satu malaikat yang tidak pernah turun kepada siapapun sebelumnya, yaitu Malaikat Mikail. Malaikat Mikail berkata kepada beliau, ‘Ya Muhammad. Hiduplah kamu menjadi seorang raja yang senang,. Untukmu kunci-kunci khazanah bumi. Tunduk kepadamu gunung dan batu dari emas dan perak. Itu semua tidak mengurangi apa yang tersimpan untukmu di akhirat kelak sedikitpun.” Lalu dia menunjuk Malaikat Jibril AS dan meminta darinya agar bertawadu’. Kamudian Nabi Muhammad SAW berkata : ‘Tidak, tetapi aku ingin hidup sebagai nabi dan hamba. Sehari makan dan dua hari tidak makan. Aku ingin bergabung dengan saudara-saudaraku dari kalangan nabi sebelumku.’ Maka Allah memberinya telaga kautsar dan hak syafaat. Ini lebih besar 70.000 kali lipat dari kerajaan dunia dari permulaan sampai akhir. Dan Allah menjanjikan kedudukan yang terpuji (al maqam al Mahmud). Di hari kiamat nanti Allah akan mendudukannya di atas Arsy. Itu semua lebih mulia dari apa yang telah diberikan kepada Nabi Sulaiman bin Dawud AS.’
Orang Yahudi berkata. “Angin telah diciptakan untuk Nabi Sulaiman AS. Angin itu membawa pergi Sulaiman di negerinya dalam sebuah perjalanan, perginya satu bulan dan pulangnya satu bulan.”
Sayyidina Ali berkata, ‘Ya itu benar.’ Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Dia telah diisra’kan dari Masjid al Haram ke Masjidil al Aqsa, yang biasa ditempuh satu bulan, lalu di bawa naik ke kerajaan langit, yang memerlukan waktu lima puluh ribu tahun, dalam waktu kurang dari sepertiga malam.’
Orang Yahudi berkata, “Telah diciptakan jin-jin untuk taat kepada Nabi Sulaiman AS. Mereka bekerja untuk Sulaiman ketika membuat mihrab dan patung.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Jin-jin diciptakan untuk taat kepada Nabi Muhammad AS, tetapi mereka dalam keadaan kafir, sementara jin-jin diciptakan untuk taat kepada Nabi Muhammad SAW dalam keadaan beriman. Telah datang kepada beliau sembilan tokoh jin dari Yaman dan dari Bani Amr bin Amir. Mereka adalah Syashot, Madhot, Hamlakan, Mirzaban, Mazman, Nadhot, Hashib, Hadhib dan Amr. Merekalah yang disebutkan dalam al-Qur’an.’
‘Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan. (QS al-Jin : 1).’
‘Mereka berbaiat kepada beliau untuk menjalankan puasa, sholat, zakat, haji dan jihad. Ini lebih hebat dari yang diberikan kepada Nabi Sulaiman AS.”
12. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Yahya AS
Orang Yahudi berkata, ‘Lihatlah Nabi Yahya bin Zakaria AS karena dia waktu kecil telah diberi hikmah, kebijaksanaan dan pemahaman. DIa menangis tanpa berbuat kesalahan dan dia senantiasa berpuasa terus menerus.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Nabi Yahya AS hidup pada masa tiada berhala-berhala dan kejahiliahan.”
Sementara Muhammad pada masa kecilnya telah diberi hikmah dan pemahaman di tengah para penyembah berhala dan setan. Beliau sama sekali tidak menyukai berhala, tidak pernah aktif dalam upacara-upacara mereka dan tidak pernah berdusta sama sekali. Beliau seorang yang jujur, terpercaya dan bijaksana. Beliau senantiasa menyambung puasa dalam seminggu, terkadang kurang dan terkadang lebih. Beliau pernah berkata, “Aku tidak seperti kalian. Aku berada di samping Tuhanku. DIa Yang memberiku makan dan minum.” Beliau selalu menangis sehingga air matanya membasahi tempat sholatnya karena takut kepada Allah SWT tanpa kesalahan.
13. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Isa bin Maryam AS. Mereka meyakini bahwa dia dapat berbicara dalam buaiannya dalam keadaan masih bayi.”
Sayyidina Ali berkata, ‘Yai itu benar. Nabi Muhammad SAW keluar dari perut ibunya sambil meletakkan tangan kirinya di atas tanah dan tangan kanannya diangkay ke atas beliau menggerakkan kedua bibirnya dengan ucapan tauhid. Lalu terpancarlah dari mulutnya cahaya sehingga penduduk Mekah dapat melihat istana-istana Bashrah dan istana-istana merah di negeri Yaman dan sekitarnya. Dunia menjadi terang benderang di malam kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga jin, manusia dan setan ketakutan.
Mereka berkata, ‘Telah terjadi peristiwa besar di muka bumi ini.’ Pada malam kelahiran beliau, para malaikat naik turun dari langit, bertasbih dan memuji Allah.”
Orang Yahudi berkata, ‘Mereka meyakini bahwa Nabi Isa AS telah menyembuhkan orang bisu dan orang yang menderita penyakit belang dengan izin Allah SWT.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Muhammad telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah menyembuhkan orang dari penyakitnya. Ketika beliau duduk, beliau bertanya tentang seorang sahabat beliau, lalu para sahabat beliau berkata, “Ya Rasulullah, dia terkena musibah sehingga dia seperti seekor anak burung yang tidak berbulu.” Kemudian beliau mendatanginya, ternyata orang itu benar-benar seperti anak burung yang tidak berbulu karena beratnya musibah. Beliau berkata, “Apakah kamu telah meminta sesuatu dengan doa?”
Dia menjawab, “Ya. Aku pernah berdoa kepada Allah agar segala siksaan yang akan menimpaku di akhirat nanti, disegerakan di dunia ini,”
Kemudian Nabi berkata, “bacalah doa ini, ‘Ya Allah, berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jagalah kami dari azab neraka.” Maka orang itupun mengucapkannya, lalu dia segera bangun dan sehat.
Juga pernah seseorang datang dari Junainah yang menderita lepra. Dia mengadu kepada beliau. Lalu beliau mengambil mangkuk berasa air dan beliau meludahinya, kemudian beliau berkata, “Basuhlah badanmu dengan air ini!” Orang itu lalu mengerjakannya dan kemudian sembuh seakan-akan tidak terjadi apa-apa.’
Orang Yahudi berkata, “Mereka meyakini bahwa Nabi Isa AS telah menghidupkan orang yang telah mati dengan izin Allah SWT.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Sungguh telah bertasbih sembilan kerikil di tangan Nabi Muhammad SAW suranya sampai terdengar padahal kerikil itu tidak bernyawa. Beberapa orang yang sudah mati berbicara dengannya dan meminta bantuan darinya dari siksaan kematian. Kamu meyakini bahwa Nabi Isa AS berbincang-bincang dengan orang-orang yang sudah mati, Nabi Muhammad SAW mempunyai pengalaman yang lebih mengaggumkan dari itu. Ketika beliau singgah di Thaif sementara kaum Thaif memboikot beliau. Mereka mengirim seekor kambing yang sudah dipanggang dan dicampur racun, lalu kambing itu berbicara, “Wahai Rasulullah, jangan engkau makan aku, karena aku telah diberi racun. Beliau telah diajak bicara oleh kambing yang sudah disembelih dan dibakar. Beliau juga memanggil pohon, lalu pohon itu menghampirinya. Binatang-binatang buas berbicara dengan beliau dan bersaksi atas kenabian beliau. Ini semua lebih besar dari yang diberikan kepada Isa AS.’
Orang Yahudi berkata, ‘Nabi Isa AS telah memberitahu kaumnya tentang apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.”
Sayyidina Ali menjawab, “Itu benar. Nabi Muhammad SAW telah berbuat sesuatu yang lebih besar daripada itu. Kalau Nabi Isa AS memberitahu apa yang ada di belakang tembok, maka Nabi Muhammad SAW telah memberitahu tentang perang Mu’tah, padahal beliau tidak menyaksikannya dan beliau menjelaslkan tentangnya dan orang-orang yang syahid di sana padahal jarak antara tempat perang dengan beliau sejauh perjalanan sebulan.”
Akhirnya orang Yahudi tersebut mengucapkan dua kalimah syahadat dan bersaksi bahwa tiada kedudukan dan keutamaan yang Allah berikan kepada Nabi melainkan Dia berikan juga kepada Rasulullah SAW dengan tambahan.
Ibnu Abbas r.a. berkata, “Aku bersaksi, wahai ayah al-hasan, bahwa engkau adalah orang yang sangat dalam pengetahuannya.”
Sayyidina Ali menjawab, “Bagaimana aku tidak mengatakan tentang seorang yang Allah sendiri mengagungkannya dalam al-Qur’an, Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”
Wallahu a’lam

Dialog Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. dengan seorang Yahudi (Bagian II)

Bismillahirrohmanirrohim
5. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Saleh AS
Orang Yahudi berkata : “Lihatlah Nabi Saleh AS,” ujar Yahudi. “Allah telah menciptakannya untuknya seekor unta dari batu sebagai mukjizat
Sayyidina Ali menjawab, “Ya itu benar.” Kemudian beliau melanjutkan, “Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Kalau unta Nabi Saleh tidak berbicara dan tidak bersaksi atas kenabiannya, maka ketika kita bersama beliau dalam sebuah peperangan, tiba-tiba datang seekor unta mendekatinya bersuara dan berbicara, “Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulan telah menggunakanku sampai aku besar dan kini dia hendak menyembelihku. Aku berlindung kepadamu darinya.” Kemudian beliau memanggil pemilik unta itu dan meminta unta darinya. Orang itu memberikannya kepada beliau.
Juga ketika kami bersama beliau, tiba-tiba datang seorang Arab dari pedalaman menuntun untanya. Orang pedalaman itu hendak dipotong tangannya karena ulah para saksi yang telah memberikan kesaksian palsu. Kemudian unta itu, berbicara dengan belia, “Ya Rasulullah, sesungguhnya orang ini tidak berdosa, para saksi yang ini memberikan kesaksian secara paksa. Sebenarnya pencuriku adalah seorang Yahudi.”
6. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Ibrahim AS, karena dia telah mengetahui Allah SWT dengan perenungan (i’tibar). Pembuktiannya telah meliputi keimanan terhadap-Nya.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah mengenal Allah SWT dengan i’tibar sebagaimana Nabi Ibrahim AS. Namun, Nabi Ibrahim AS mengenal Allah dalam usia lima belas tahun sementara Rasulullah SAW mengenal-Nya semenjak usia tujuh tahun. Pernah sejumlah pedagang Nasrani datang. Mereka menurunkan dagangan mereka di antara bukit Shafa dan Marwa. Sebagian dari mereka melihat beliau, Muhammad SAW lalu mereka mengetahui sifat, karakter, dan berita akan kebangkitannya sebagai nabi dan mereka mengetahui beberapa mukjizatnya.
Para  pedagang Nasrani itu bertanya kepada Muhamamd SAW, “Wahai anak kecil, siapa namamu?” Beliau menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Siapa nama ayahmu?” Beliau menjawab, “Abdullah.” Mereka bertanya, “Apa nama ini (mereka bertanya sambil menunjuk bumi)?” Beliau menjawab, “Bumi.”
Mereka bertanya, “Apakah nama itu (mereka bertanya sambil menunjuk langit)?” Beliau menjawab, “Langit.” Mereka bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi dan langit?” Beliau menjawab “Allah.” Lalu Muhammad SAW menyentak mereka, “Apakah kalian meragukan tentang Allah SWT? Celaka kamu, wahai Yahudi.” Beliau telah mengetahui Allah dengan i’tibar pada saat kaumnya kufur, bersumpah dan menyembah patung-patung, tetapi beliau berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”
Orang Yahudi berkata kembali, “Nabi Ibrahim AS telah terhijabi dari mata Namrud sebanyak tiga kali.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Namun Nabi Muhammad SAW telah terhijabi dari dari mata orang-orang yang hendak membunuhnya sebanyak lima kali. Sama tiga jumlahnya dan bahkan lebih dua.
Kelima hijab yang dimaksud adalah ketika Allah berfirman : ‘Dan Kami jadikan penutup dihadapan mereka, adalah hijab (penutup) yang pertama.’ Dan dari belakang mereka,’ adalah hijab kedua. ‘Lalu Kami tutup mata mereka sehingga tidak dapat melihat,’ (QS Yaasin : 9) adalah hijab ketiga. Hijab yang keempat adalah firman Allah SWT yang berbunyi,
“Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (QS al-Isra’ : 45)
Sedangkan hijab yang kelima adalah firman Allah SWT yang berbunyi,
“Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.” (QS Yassin,8)
Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Nabi Ibrahim AS telah membungkan mulut orang kafir dengan kenabiannya.”
Sayyidina Ali berkata, “Benar! Pernah Nabi Muhammad SAW didatangi orang yang mendustakan hari kebangkitan setelah kematian, orang itu adalah Ubai bin Khalaf al-Jumahi, dia membawa tulang yang hancur lalu berkata, “Wahai Muhammad, siapakah yang akan menghidupkan kembali tulang belulang ini padahal sudah hancur?” Lalu Allah SWT menurunkan atas Muhammad sebuah ayat yang membungkam mulut orang itu,
“Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk” (QS Yassin : 79)
Akhirnya orang itupun pergi terbungkam. Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim telah menghancurkan patung-patung kaumnya dengan marah karena Allah SWT.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad SAWT telah merobohkan tiga ratus enam puluh patung di dalam Ka’bah dan membersihkan semenanjung Arabia dari patung-patung serta mengalahkan orang-orang yang menyembah patung dengan pedang.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim AS pernah dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api, tetapi dia pasrah dan sabar, akhirnya Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkannya. Apakah Allah berbuat yang sama terhadap Muhammad?”
Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Ketika Nabi Muhammad pergi ke Khaibar, seseorang wanita Khaibar meracuninya, tetapi Allah menjadikan racun itu dingin (tidak bereaksi) di dalam perutnya sampai akhir wafatnya. Padahal racun itu, jika berada di dalam perut akan membakar seperti api yang membakar. Itu adalah kekuasaan-Nya, janganlah kamu mengingkarinya.”
7. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ya’qub AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Ya’qub AS. Dia mendapatkan nasab yang sangat besar. Allah menjadikan para Nabi dari tulang rusuknya. Marya putri Imran adalah termasuk keturunannya.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad mendapatkan nasab yang lebih besar. Allah menjadikan Fathimah, wanita penghulu alam raya, sebagai putrinya. Al-Hasan dan al-Hussein sebagai cucunya.
Orang Yahudi berkata, “Nabi Ya’qub bersabar karena perpisahan putranya sampai-sampai dia hampir sakit parah karena sedih.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Ya’qub benar-benar sedih, namun kesedihannya berakhir dengan perjumpaan. Tetapi Nabi Muhammad ketika putranya yang tersayang, Ibrahim, diambil selagi beliau masih hidup. Allah mengujinya agar beliau mendapat simpanan yang besar nanti. Beliau bersabda, “Jiwa pilu dan hati terluka. Dan kamu sangat sedih atasmu wahai Ibrahim. Kami tidak mengatakan sesuatu yang memurkakan Allah.” Dalam semua itu, beliau mengutamakan kerelaan terhadap Allah SWT dan pasrah kepada-Nya dalam segala perbuatan.”
8. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Yusuf AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Yusuf AS, dia menyimpan pahitnya perpisahan. Dia dijerumuskan ke dalam penjara demi menghindari kemaksiatan. Dia dilemparkan ke dalam lubang yang gelap sebatang kara.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad menyimpan pahitnya keterasingan. Beliu meninggalkan keluarga, anak dan harta untuk berhijrah dari Haramullah (Ka’bah, Mekah). Ketika Allah melihat kesedihan dan perasaan pilu, Allah memperlihatkan kepadanya sebuah mimpi yang menyamai mimpinya Nabi Yusuf AS dalam takwilnya dan Allah membuktikan kebenaran mimpinya kepada seluruh alam raya. Allah SWT berfirman :
“Sungguh, Allah akan Membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jlka Allah Menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah Memberikan kemenangan yang dekat.” (QS al-Fath, 27).
Kalau Nabi Yusuf AS ditahan dalam penjara, maka Rasulullah SAW dipenjara di Syi’ib selama tiga tahun. Beliau diisolir dari sanak family dan kerabatnya. Allah SWT telah memperdaya mereka (orang-orang kafir Quraisy) dengan mengutus makhluk-Nya yang paling lemah (rayap), lalu rayap itu memakan surat perjanjian yang mereka tulis.
Kalau Nabi Yusuf AS dilemparkan ke dalam lubang gelap, maka Nabi Muhammad SAW telah menyembunyikan dirinya di dalam gua karena ulah musuhnya, sampai-sampai beliau berkata kepada sahabatnya, “Janganlah kamu sedih. Sesungguhnya Allah SWT bersama kita,” Allah memujinya dalam kitab-Nya.
Wallahu a’lam.

Dialog Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. dengan seorang Yahudi (Bagian I)

Bismillahirrahmanirrahim.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. dikenal merupakan sosok yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan. Rasulullah SAW bersabda : “Aku kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya.”
Ketika Sayyidina Ali diangkat menjadi khalifah dan umat Islam membaiatnya, beliau pergi ke masjid dengan memakai sorban dan selendang Rasulullah SAW dan memakai sandal Rasulullah SAW serta membawa pedang Rasulullah SAW lalu beliau naik mimbar dan duduk diatasnya sambil menyilangkan jari-jari kedua tangannya dan meletakkan dekat perut. Kemudia beliau berkata : “Ma’asyirannas… bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Inilah wadah ilmu. Inilah air liur Rasulullah SAW. Inilah yang Rasulullah SAW tuangkan kepadaku berkali-kali. Bertanyalah kepadaku, karena aku mempunyai ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang…”
Perbandingan antara Rasulullah SAW dengan Para Nabi AS
Dari Musa bi Ja’far, dari ayahnya Ja’far Shadiq, dari ayah-ayahnya, dari al-Hussein bin Ali bin Abi Thalib, dikatakan bahwa seorang Yahudi dari Syam pernah membaca Taurat, Zabur, Injil dan kitab-kitab para Nabi AS, juga banyak mengetahui argumentasi mereka, datang ke sebuah majelis para sahabat Rasulullah SAW di antara mereka ada Sayyidina Ali, Ibnu Abbas r.a., dan Abu Ma’bad al-Juhani.
“Wahai umat Muhammad, kalian tidak tinggalkan satu derajat atau satu keistimewaan yang ada pada seorang nabi melainkan kalian berikan pula pada nabi kalian,” ujarnya. Lalu Yahudi itu bertanya, “Apakah kalian akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku ini?”
“Benar,” Jawab Sayyidina Ali. “Tidaklah Allah SWT memberikan suatu derajat dan keistimewaan kepada seorang nabi atau rasul melainkan Allah berikan juga semuanya kepada Nabi Muhammad SAW, bahkan Dia melebihkannya atas para nabi berlipat ganda.”
“Apakah engkau siap menjawab pertanyaanku?” tanyanya.
Sayyidina Ali menjawab, “Ya. Aku akan sebutkan dihadapanmu sekarang juga tentang keistimewaan Rasulullah SAW sehingga kaum muslimin senang dan orang-orang yang ragu tidak akan meragukannya lagi. Dan Rasulullah SAW pada saat menyebutkan keistimewaan dirinya selalu berkata, ‘tidak bermaksud bangga (wa la fakhr).’ Dan aku menyebutkan keistimewaan-keistimewaan beliau tanpa menjatuhkan dan mengurangi kedudukan para Nabi AS, namun sekedar mensyukuri Allah Azza Wajalla atas anugerah yang Dia berikan kepada Baginda Muhammad SAW seperti yang diberikan kepada para nabi bahkan Allah SWT melebihkan beliau.”
1. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Adam AS
“Aku akan bertanya kepadamu, siapkanlah jawabannya!” Ujar orang Yahudi itu.
“Sampaikan pertanyaanmu.” Tegas Sayyidina Ali.
Yahudi berkata, “Lihatlah Adam AS, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Apakah Allah SWT berbuat sama terhadap Muhammad?”
Sayyidina Ali menjawa, “Ya. Katika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam AS bukan berarti mereka menyembah Adam AS, tetapi mereka mengakui keutamaan Adam AS dan karena kasih sayang Allah kepadanya. Namun, Muhammad SAW telah diberi kehormatan yang lebih dari itu. Allah SWT bershalawat atasnya di alam Jabarut dan juga seluruhnya. Bahka Allah menjadikan shalawat atasnya sebagai suatu ibadah bagi orang-orang mukmin. Itu adalah suatu keistimewaan Muhammad SAW, wahai orang Yahudi.” Jawab Sayyidina Ali.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah telah mengampuni Adam setelah melakukan kesalahan.” Kata si Yahudi. “Benar. Allah memberikan ampunan kepada Muhammad tanpa beliau melakukan kesalahan. Allah azza wa jalla telah berfirman, ‘Allah hendak mengampunimu dosa yang telah lalu dan yang akan datang.’ (QS. Al-Fath : 2).
“Sesungguhnya Muhammad SAW di hari kiamat kelak tidak akan membawa dosa dan tidak dituntut karena dosa.”
2. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Idris AS
Yahudi berkata, “Lihatlah Idris AS, Allah telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi dan memberinya makanan surga setelah dia wafat.”
Sayyidina Ali menjawab, “Ya, itu benar. Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, ‘Dan telah Kami angkat sebutanmu.’ (QS. Al Insyiroh : 4). Itu sudah cukup untuk dijadikan suatu kemuliaan. Kalau Idris AS diberi makanan surga setalah di wafat, maka Muhammad SAW diberi makanan surga ketika masih hidup di dunia. Pernah ketika beliau lapar, maka datang Malaikat Jibril menemuinya membawa hidangan dari surga. Hidangan itu ternyata bertahlil, bertasbih, bertahmid dan bertakbir di tangan beliau. Kemudia beliau memberikannya kepada ahlul baitnya, lalu hidangan itu juga bertahlil, bertasbih, bertahmid dan bertakbir. Malaikat Jibril berkata bahwa hidangan ini hadiah dari surga yang diberikan Allah SWT khusus kepada Muhammad SAW. Hidangan ini tidak layak kecuali kepada Nabi dan penggantinya.”
3. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Nuh AS
“Lihatlah Nabi Nuh AS. Dia bersabar karena Allah SWT, dan dia memaafkan kaumnya disaat mereka mendustakannya.” Kata si Yahudi. “Ya, itu benar!” jawab Sayyidina Ali. “Demikianlah pula Nabi Muhammad SAW bersabar karena Allah telah memaafkan kaumnya pada saat mereka mendustakannya, mengusirnya dan melemparinya dengan kerikil. Abu Lahab pernah meletakkan di atas kepalanya kotoran, lalu Allah memerintahkan Malaikat Ja’abil (malaikat penjaga gunung) untuk menemui baginda Muhammad SAW. Malaikat Ja’abil mengatakan kepada baginda Muhammad SAW, ‘bahwa dirinya diperintahkan oleh Allah untuk mentaatimu. Apabila Engkau ingin agar aku menghimpit mereka dengan gunung, maka akan aku binasakan mereka.” Kata Malaikat Ja’abil.
“Aku diutus sebagai rahmat.” Kata beliau. Nabi bahkan mendoakan mereka, “Ya, Allah, berilah umatku ini hidayah karena mereka belum mengetahui.”
Orang Yahudi itu kembali berkata, “Nabi Nuh AS berdoa kepada Tuhannya, lalu turunlah hujan deras dari langit.”
“Ya itu benar. Nabi Nuh AS berdoa dalam keadaan marah sementara hujan deras diturunkan Allah SWT karena kasih sayang.” Jawab Sayyidina Ali. “Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, datang penduduk Madinah pada hari Jum’at kepada beliau. ‘Wahai Rasulullah, sudah lama hujan tidak turun. Pohon-pohon menguning (kering), dedaunan berjatuhan,’ keluh mereka. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya, sehingga tampak putih lipatan pangkal kedua tangannya. Langit yang semula bersih tidak berawan, tiba-tiba berubah menjadi gelap dan turunlah hujan yang deras, begitu derasnya sehingga seorang pemuda yang gagah perkasa hampir mati karena pulang ke rumahnya karena derasnya hujan yang mengakibatkan banjir. Kejadian itu berlangsung selama seminggu. Mereka kembali mendatangi beliau pada hari Jum’at berikutnya, “Ya Rasulullah, ruamh-rumah menjadi hancur, kendaraan dan transportasi terhenti.” Keluh mereka lagi. Beliau tersenyum sejenak, “Beginilah cepatnya manusia bosan.” Kata beliau. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ini semua menguntungkan kami dan tidak membahayakan kami.” Maka hujanpun mulai reda di sekitar kota Madinah sedangkan di kota Mandinah sendiri hujan berhenti total. Itulah mukjizat Nabi Muhammad SAW.”
4. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Hud AS
Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Hud AS, karena Allah SWT telah menolongnya dengan mengirimkan angin, apakah Allah berbuat yang serupa terhadap Nabi Muhammad?” Tanyanya.
“Ya itu benar!” Jawab Sayyidina Ali. “Nabi Muhammad SAW telah diberitahu sesuatu yang lebih dari itu. Allah juga telah menolonngnya dari musih-musuhnya dengan angin dalam perang Khandaq. Allah mengirimkan anging kencang sehingga kerikil-kerikil berterbangan, lebih dari itu Allah memperkuat pasukan beliau dengan delapan ribu pasukan malaikat. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirim kepada mereka angin dan pasukan yang tidak kalian lihat.” (QS Al- Ahzab : 9).

Sejarah Singkat Rasulullah SAWW

Nasab Nabi Muhammad Sholallah ‘alahi wa aalihi wa shohbihi was salam Nasab Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan dan seterusnya sampai kepada Nabi Ibrahim alaihis salam.

Kelahiran Nabi Muhammad Sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam


Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dilahirkan pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal tahun Gajah. Ada yang meriwayatkan bertepatan dengan tanggal 2 namun ada riwayat lain yang menyatakan tanggal 3, akan tetapi pendapat yang paling masyhur menurut Jumhurul ulama adalah tanggal 12 Rabi’ul Awwal.
Selama ibu baginda Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam mengandung, tidak sedikitpun merasa berat maupun ngidam. Akan tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa dia merasa sedikit berat hanya ketika mulai mengandung saja, namun setelah itu, dia merasakan penuh kemudahan dan keringanan.
Bahkan, Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dilahirkan tidak seperti manusia-manusia lainnya. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam lahir dalam keadaan telah terkhitan dan tali pusatnya terpotong bersih sambil menggenggam jari jemarinya dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya seperti orang yang sedang bertasbih. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kakeknyalah yang telah mengkhitankan beliau pada hari ketujuh dari kelahirannya.
Para ulama berbeda pedapat tentang masa baginda Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berada dalam kandungan ibunya, diantara pendapat terkuat adalah bahwa beliau berada dalam kandungan ibu selama 9 bulan.
Hari Senin adalah adalah hari yang penuh berkah. Imam Ahmad Ibnu Hambal meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra, “Dia berkata bahwa Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dilahirkan pada hari Senin, beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat menjadi rasul juga pada hari Senin, beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam keluar untuk berhijrah dari Mekkah ke Madinah juga pada hari Senin dan sampai di Madinah al-Munawwarah juga pada hari Senin, beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam wafat juga pada hari Senin dan beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam mengangkat Hajar Aswad (ketika Ka’bah di bangun kembali oleh orang-orang Quraisy) juga pada hari senin.”
Pada malam kelahiran Rasululah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam terjadi berbagai macam keanehan dan keajaiban, di antaranya adalah robohnya patung-patung yang ada di sekililing Kabah. Bersama kelahiran beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam pula, muncul cahaya yang sangat terang sehingga dapat menerangi istana-istana yang ada di negeri Syam (Syiria pada saat ini). Di antara keanehan dan keajaiban yang lain adalah adanya goncangan yang amat dahsyat meluluhlantahkan istana Kaisar Persia dan menhancurkan beranda-berandanya. Api persembahan mereka yang belum pernah padam selama seribu tahun tiba-tiba padam. Danau yang biasa meluap seketika itu surut. (sebuah danau yang sangat besar di wilayah Persia).
Yang Mengasuh dan Menyusui Nabi Muhammad Sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam
Orang yang pertama kali menyusui Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah ibunya sendiri Aminah az—Zurriyah, setelah itu beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam disusui oleh Tsuwaibah al-Aslamiyah selama beberapa hari.
Tsuwaibah al-Aslamiyah adalah salah seorang budak wanita Abu Lahab yang dibebaskan ketika dia menyampaikan berita gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam kepadanya, sehingga dengan itu, maka Allah Swt meringankan siksaan atasnya. Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sebuah hadits Muallaq bahwa setelah Abu Lahab meninggal dunia seseorang mimpi bertemu dengannya, lalu dia memberitahu kepadanya bahwa dalam setiap hari Senin dia telah diringankan siksaannya oleh Allah Swt karena memerdekakan budaknya Tsuwaibah sebagai tanda kegembiraannya terhadap kelahiran Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam.
Ibnu Mandah salah seorang ahli tafsir terkemuka telah memasukkan Tsuwaibah dalam kategori sahabat, namun para ulama telah berbeda pendapat tentang hal itu. Nabi Muhammad memberikan penghormatan yang baik terhadap Tsuwaibah al-Aslamiyah. Terbukti ketika Tsuwaibah al-Aslamiyah mengunjungi beliau setelah menikah dengan Khadijah radhiallahuanha, demikian pula dengan Sayyidah Khadijah ra. Begitu pula setelah Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam hijrah ke Madinah beliau juga mengirimkan pakaian dan uang padanya hingga dia meninggal dunia.
Setelah itu Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam disusui oleh Halimah binti Abi Dhuaib as-Sa’diyah. Nabi Muhammad sholallah alahi was salam dibawa oleh Halimah ke desanya di Bani Sa’ad yaitu sebuah desa di wilayah Thaif. Menurut pendapat yang benar bahwa Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam tinggal di sana selama empat tahun.
Selama mengasuh Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam, Halimah dan keluarganya dianugerahi oleh Allah Swt rizki yang melimpah dan kehidupan yang sejahtera. Syaima’ adalah puteri Halimah as-Sa’diyah yang turut bersama ibunya mengasuh baginda Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam.
Selanjutnya Halimah as-Sa’diyah mengembalikan Nabi sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam kepada ibunya karena takut terhadap peristiwa pembedahan dada yang terjadi padanya ketika Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berusia empat atau lima tahun.
Setelah itu, Halimah as-Sa’diyah tidak lagi pernah melihat Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam kecuali hanya dua kali, yaitu yang pertama, setelah Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam menikah dengan Sayyidah Khadijah ra, dia datang kepada beliau sholallah alahi was salam dan mengadukan kepadanya tentang paceklik yang menimpa negerinya. Pada waktu itu Sayyidah Khadijah ra memberikan 20 ekor kambing dan hadiah-hadiah yang lainnya.Dan yang kedua yaitu pada saat terjadinya perang Hunain.
Di samping itu, Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam juga pernah diasuh oleh Ummu Aiman Barakah al-Habasyiah, dia adalah bekas budak perempuan ayah Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam, namun setelah Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dewasa, dia dibebaskan oleh beliau dan dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah.

Masa Pertumbuhan Nabi Muhammad Sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam
Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dibesarkan dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal dunia pada saat beliau sholallah alahi was salam masih berada dalam kandungan ibunya. (Inilah pendapat yang paling masyhur yang dipilih oleh Ibnu Katsir dan lain-lain karena ada pendapat lain yang yang mengatakan bahwa ayah Nabi sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam meninggal ketika Nabi sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berusia dua puluh delapan bulan.Dan pada saat itu ayahnya berusia dua puluh lima tahun, demikian menurut pendapat yang benar.)
Sepeninggal ayahnya semua biaya hidup Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam ditanggung oleh kakek beliau yang bernama Abdul Muthalib. Pada saat berusia enam tahun, beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam diajak pergi oleh ibunya ke kota Yatsrib (Madinah al-Munawwarah) untuk mengunjungi keluarga bibi-bibi beliau dari Bani Najjar. Di sana beliau tinggal bersama mereka selama satu bulan. Setelah itu, barulah mereka kembali. Namun dalam perjalan pulang ibunya sakit yang menyebabkannya meninggal dunia, sehingga sekaligus dimakamkan di desa Abwa’.Beliau pulang bersama Ummu Aiaman yang kemudian menyerahkan Nabi sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam pada kakeknya Abdul Muthalib. Ada riwayat lain yang mengatakan bahwa setelah meninggal dunia, jenazah ibunya sempat dibawa pulang ke Mekkah dan dimakamkan di sana. Demikian menurut Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Wafa’.
Kakek beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam wafat pada saat beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berusia 8 tahun. Setelah itu, Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam diasuh oleh paman beliau Abu Thalib sesuai dengan wasiat kakeknya. Sejak saat itu Abu Thalib menjadi pengasuh dan pelindung Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dari musuh-musuh beliau. Abu Thalib juga sangat mencintai Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam. Kehidupan Abu Thalib sangat miskin, namun Allah Swt telah melimpahkan keberkahan dan kemakmuran kepadanya berkat pengasuhannya terhadap Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam.
Ketika berusia 12 tahun, beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dibawa oleh pamannya Abu Thalib ke Syam untuk berdagang, namun dia segera memulangkannya kembali karena takut terhadap apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Yahudi kepadanya sebagaimana peringatan Pendeta Bukhaira kepada Abu Thalib.
Kemudian yang kedua kalinya adalah ketika Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam pergi bersama Maisarah budak Khadijah ra untuk membawa barang dagangan ke Syam. Pada waktu itu Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berusia 25 tahun. Kebetulan malam tanggal 16 Dzul Hijjah, ketika Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam singgah di bawah sebuah pohon, seorang pendeta mendekat seraya berkata, “Tidak ada orang yang singgah di bawah pohon ini kecuali dia adalah seorang nabi.”

Keadaan Nabi Muhammad Sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam sebelum Diutus
Sebelum diutus menjadi nabi, Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah seorang hamba yang taat beragama dan gemar beribadah. Beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam benci terhadap berhala dan hal-hal yang haram, disamping itu, beliau juga seorang penggembala domba. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam bersabda:
“Allah Swt tidak mengutus seorang nabi kecuali dia pernah menggembala domba. Lalu seorang bertanya kepada Beliau, “Apakah engkau juga?” Maka Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam menjawab, “Ya.”. Sebelum diutus menjadi nabi, Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam juga pernah berdagang. Diantara salah seorang yang pernah menjadi rekanan beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah Saib Abi Saib. Oleh karena itu, pada saat pembukaan kota Mekkah Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berkata kepadanya:

مَرْحَبًا بِأَخِي وَشَرِيْكِي

“Selamat datang, wahai saudara dan rekananku.”
Dan di dalam berdagang Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam tidak pernah menipu maupun menyakiti orang lain. Disamping itu, Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam juga telah melakukan perniagaan ke Syam dengan membawa barang dagangan milik Sayyidah Khadijah ra, dan beliau sholallah alahi was salam pulang dengan membawa keuntungan yang sangat banyak, sebuah keuntungan yang tidak terbanyangkan sebelumnya. Pada saat itu usia beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah 25 lima tahun.

Nama-nama Nabi Muhammad Sholallah Alaihi wa aalihi wa shohbihi Was salam
Di antara nama-nama Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam sebagimana disabdakan oleh beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam sendiri adalah :

أَنَا مُحَمَّدُ, أَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللهُ بِهِ الكُفْرَ, وَأَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِيْ, وَأَنَا العَاقِبُ فَلاَ نَبِيَّ بَعْدِي.

“Aku adalah Muhammad (terpuji), Ahmad (memuji), Maahi (yang menghapus kekafiran), Haasyir (yang mengumpulkan seluruh umat manusia dihadapannya), ‘Aaqib (penutup para nabi).”
Dalam riwayat yang lain juga disebutkan:

أَنَا المُقَفَّى وَنَبِيُّ التَّوْبََة وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ.

Aku adalah Muqaffa (yang dimuliakan), Nabiyyut Taubah (nabi pembuka pintu taubat) dan Nabiyyur Rahmah (nabi pembawa rahmat)”.
Adapun dalam Shahih Muslim disebutkan, “Nabiyyul Malhamah (Nabi yang memimpin peperangan.”
Dalam al-Quran Allah Ta’ala menyebut Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dengan nama-nama berikut ini : Basyiran (pembawa berita gembira), Nadziiran (pemberi ancaman), Siraajan Muniiran (pelita yang terang), Rauufan Rahima (pengasih dan penyayang), Rahmatal lil’alamiin (pembawa rahmat bagi alam semesta). Muhammad, Ahmad, Thaha, Yaasin, Muzammil (orang yang berselimut), Mudatstsir (orang yang berkemul) dan Abdullah (hamba Allah) yaitu sebagaimana tertera dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَأَنَّهُ لَمَا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ. (الجن : 19)

“Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat).” (Al-Jin : 19).
Dalam al-Qur’an Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga dipanggil dengan nama An-Nadziir al-Mubiin (pemberi peringatan yang menjelaskan), yaitu sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَقُلْ إَنِّي أَنَا النَذِيرُ المُبِيْنُ (الحجر :89)

“Dan katakanlah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.” (Al-Hijr : 89)
Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga dipanggil dengan nama Mudzakkir (yang memberi peringatan). Hal itu sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang berbunyi :

إَنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّر (الغاشية : 21) “

Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (Al-Ghaasyiyah : 21)
Dan banyak lagi nama-nama lainnya, namun kebanyakan nama-nama tersebut adalah sifat.
Tanda-tanda Kenabian Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam
Ada beberapa tanda kenabian Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam, diantaranya adalah sebagai berikut : Peristiwa Pembedahan dada. Peristiwa tersebut terjadi sebanyak empat kali. Peristiwa Pembedahan dada yang pertama terjadi pada saat Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam berada dalam asuhan Halimah as-Sa’diyah dan ketika itu beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam masih berusia empat tahun. Demikian menurut pendapat yang benar.
Peristiwa Pembedahan dada yang kedua, pada saat usia beliau sepuluh tahun.(hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dijelaskan juga dalam Syarah Imam az-Zarqoni ala al-Mawahib al-Ladunniyah li al- Qasthalani).
Peristiwa Pembedahan dada yang ketiga terjadi ketika Jibril datang kepadanya untuk memberikan wahyu atau pada saat beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat sebagai seorang nabi dan pada saat itu beliau sholallah alaihi was salam berusia empat puluh tahun. (hal tersebut sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abi Dawud ath-Thayalisi dan penjelasan yang ada dalam Syarah Imam az-Zarqoni al al -Mawahib al-Ladunniyah li al-Qasthalani).
Peristiwa Pembedahan dada yang keempat terjadi pada malam Isra’ Mi’raj, ketika Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam hendak diisra’kan, hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Ketahuilah bahwa seluruh cerita tentang peristiwa pembedahan dada dan pembersihan hati Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah peristiwa yang wajib kita yakini, tidak ragu-ragu tanpa membayangkan bagaimana hakikat yang sebenarnya, karena peristiwa yang seperti itu bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah.
Khatimun Nubuwwah (Cap kenabian). Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan bentuknya, akan tetapi menurut pendapat yang paling masyhur adalah berbentuk seperti telur burung merpati, yaitu sepotong daging yang timbul pada punggung sebelah kiri bagian atas Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam, ia memancarkan cahaya dan berbau wangi serta meningkatkan wibawa.
Mimpi yang nyata. Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam tidak pernah mimpi sesuatu kecuali ia akan menjadi kenyataan. Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam acap kali melihat cahaya dan sinar serta mendengar suara-suara. Disamping itu beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga dapat mendengarkan ucapan salam bebatuan dan pepohonan serta terlindungi dari panasnya terik matahari dengan awan yang selalu berada di atas beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam.
Anak-Anak Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam
Anak-anak Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah sebagai berikut :
Qasim, dengannya Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam memperoleh julukan abul Qasim. Dia dilahirkan sebelum Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat menjadi nabi begitu pula meninggalnya, dia meninggal dunia dalam usia 2 tahun.
Abdullah, dia juga dinamai dengan ath-Thayyib dan ath-Thahir. Dia dilahirkan setelah Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat menjadi nabi, namun ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa dia dilahirkan sebelum Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat menjadi nabi. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa ath-Thayyib bukanlah ath-Thahir. Zainab. Ruqayyah. Ummu Kultsum Fathimah az-Zahra ra.
Anak-anak perempuan Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam seluruhnya mengalami zaman Islam dan turut berhijrah bersama Rasululah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam. Perlu kami sampaikan di sini bahwa mereka semua adalah anak-anak dari Khadijah ra.
Disamping itu, Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga memiliki anak lain yang dilahirkan di Madinah yaitu Ibrahim, dia dari Mariyah al-Qibthiyyah. Ibrahim meninggal dunia ketika berusia 70 hari. Menurut sebagaian riwayat adalah 7 bulan dan riwayat yang lain lagi 8 bulan.
Seluruh anak Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam meninggal dunia pada saat beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam masih hidup kecuali Fathimah az-zahra, dia meninggal 7 bulan setelah nabi wafat.
Zainab adalah anak perempuan Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang paling besar, dia menikah dengan Abul Ash bin Rabi’ dan dia telah masuk Islam. Dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Ali, namun ia meninggal dunia pada saat usianya masih dini. Disamping itu dia juga memiliki anak yang lain yaitu Umamah, seorang anak yang pernah digendong oleh Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam pada saat beliau melakukan shalat.
Setelah dewasa Umamah menikah dengan Ali bin Abi Thalib yakni setelah meninggalnya Fathimah az-Zahra bibinya serta atas wasiat darinya. Sepeninggal Ali bin Abi Thalib Umamah menikah kembali dengan Mughirah bin Naufal bin Harits bin Abdul Muthalib dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Yahya al-Mughirah. Umamah meninggal dunia ketika menjadi isteri Mughirah.
Fathimah az-Zahra ra menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra, beliau memiliki beberapa orang anak yaitu, Hasan, Husein, Muhsin, Ruqayyah, Zainab, dan Ummu Kultsum radhyallahu ‘anhum. Muhsin meninggal dunia pada saat masih bayi sedangkan Ruqayyah meninggal dunia sebelum dewasa.
Zainab menikah dengan Abdullah bin Ja’far dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Ali, namun ia meninggal dunia pada saat masih kecil. Sedangkan Ummu Kultsum menikah dengan Umar bin Khathab ra dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yaitu Zaid. Setelah itu, dia menikah kembali dengan ‘Auf bin Ja’far, setelah itu diperisteri oleh saudaranya yaitu Abdullah bin Ja’far.
Adapun Ruqayyah (puteri Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam) dia menikah dengan Utsman bin Affan dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Abdullah. Ruqayah meninggal dunia pada hari dimana Zaid bin Haritsah datang membawa kabar gembira tentang kemenangan kaum muslimin di perang Badar. Setelah Ruqayyah meninggal dunia, Utsman bin Affan ra menikah kembali dengan saudaranya yakni puteri Nabi sholallah alaihi was salam yang satunya yaitu Ummu Kultsum, dan dia meninggal dunia di sisinya pada bulan Sya’ban tahun sembilan kenabian.
Hijrah Nabi Muhammad Sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam
Pada tahun ketiga belas dari kenabian, Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam memerintahkan pada sahabatnya dan orang-orang Islam yang berada di Makkah untuk berhijrah menuju Madinah agar bergabung dengan saudara-saudara mereka dari kaum Anshar. Nabi berkata :

إِنَّ اللهَ عَزَّ وّجَلَّ جَعَلَ لَكُمْ إِخْوَانًا وَدَارًا تَأْمَنُوْنَ بِهِا.

“Sesungguhnya Allah telah mempersiapkan keluarga dan rumah sebagai tempat berlindung yang aman untuk kamu sekalian.”
Maka keluarlah mereka berbondong-bondong menuju Madinah. Tetapi untuk sementara Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam tetap tinggal di Makkah sambil menunggu izin dari Allah untuk keluar berhijrah. Diantara mereka adalah Umar bin Al-Khattab, Talhah bin Zaid, Hamzah, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Abu Hudzaifah, Usman bin Affan dan lain-lain.
Dan setiap hari orang Islam secara bertahap berhijrah ke Madinah sehingga tidak ada yang tinggal bersama Nabi di Makkah kecuali Imam Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallah ‘anhuma beserta orang-orang yang tertahan dan tersiksa. Kemudian Nabi mendatangi rumah Abu Bakar dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kepadaku untuk berhijrah.” Maka Abu Bakar serentak menjawabnya, “Aku akan menemanimu, wahai Rasulullah!” Rasulullah menjawab pula, ”Ya, memang Kaulah yang kuminta menemaniku nanti.” Mendengar jawaban itu, Abu Bakar menangis karena terharu dan gembira.
Jauh sebelumnya Abu Bakar telah menyediakan dua ekor unta sebagai kendaraan mereka untuk berhijrah, dan ia telah mengupah Abdullah bin Uraiqit sebagai teman dan penunjuk jalan ke Madinah. Nabi keluar bersama Abu Bakar dengan sembunyi-sembunyi menuju gua Tsaur. Dan Abu Bakar telah berpesan kepada Abdullah bin Abu Bakar puteranya, untuk mendengarkan apa yang dibicarakan orang di Makkah tentang mereka berdua, serta menyuruh Amir bin Fuhairah bekas budaknya untuk menggembala kambingnya pada siang hari dan beristirahat pada malam harinya di sekitar tempat persembunyian mereka berdua itu.
Puteri Abu Bakar Asma’ senantiasa mengirim makanan bagi keduanya. Setelah Nabi dan Abu Bakar masuk ke dalam gua, Allah memerintahkan laba-laba untuk membuat sarang di antara mulut gua itu dengan pohon yang berada di muka gua, maka tertutuplah Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam bersama Abu Bakar dari pandangan musuh-musuhnya. Allah juga memerintahkan dua burung merpati liar untuk membuat sarang di antara sarang laba-laba dan pohon di sampingnya.
Pengejaran yang dilakukan kaum Musyrikin itu menjangkau mulut gua Tsaur itu. Akan tetapi Allah menutupi keduanya sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka. Yang terlihat oleh kaum Musyrikin hanyalah sarang laba-laba yang menutupi pintu gua itu, hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-nya yang berbunyi :

فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُوْدٍ لَمْ تَرَوْهَا. (التوبة : 40)

“Maka Allah meurunkan ketenanganNya pada (Rasul)-Nya, dan diperkuatnya dengan bala tentara yang tidak terlihat oleh mereka (Musyrikin).”(At-taubah:40)
Dari dalam gua itu Abu Bakar yang menyaksikan gerak-gerik kaum Musyrikin yang ada di atas gua sempat berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Andaikata salah seorang dari mereka sampai mengangkat telapak kakinya, pasti mereka akan melihat kita.” Jawab Rasulullah, “Jangan kamu kira kita ini hanya berdua, Allahlah yang ketiganya.” Pembicaraan keduanya itu direkam oleh Allah dalam firmanNya yang berbunyi :

ثَانِىَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا.(التوبة : 40)

“Salah seorang dari dua orang yang sedang berada dalam gua itu berkata kepada temannya, “Janganlah kamu (Abu Bakar) bersusah hati, sesungguhnya Allah beserta kita.” (At-Taubah: 40)
orang-orang Quraisy yang gagal menemukan Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam itu segera mengumumkan akan memberi hadiah seratus ekor unta bagi yang dapat menemukan baginda Rasulullah.
Nabi dan Abu Bakar hanya tiga malam saja bersembunyi dalam gua Tsaur itu. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan mereka dengan ditemani oleh Amir bin Furaihah dan Abdullah bin ‘Uraiqit sebagai penunjuk jalan.
Mendengar sayembara yang dikeluarkan oleh kaum Quraisy itu, Suraqah bin Malik bin Ju’syum seorang pemuda tangguh, berusaha mengejar Nabi untuk mengembalikannya kepada kaum Quraisy agar dia mendapat hadiah seratus ekor unta. Ia memacu kudanya dengan mengikuti jejak unta Nabi yang ditemukannya, hingga suatu ia tergelincir kudanya dan terpelanting berkali-kali. Ketika melihat Suraqah mendekat, Nabi berdoa memohon perlindungan kepada Allah yang menyebabkan kuda Suraqah terjatuh karena kakinya terbenam ke dalam pasir. Di saat itulah Suraqah sadar bahwa dia tidak akan dapat menangkap Rasulullah.
Dalam keadaan kaki kudanya sedang ditelan bumi ia pun segera memohon pertolongan kepada Rasulullah. Ia berteriak sekuat tenaga, “Aku adalah Suraqah bin Malik bin Ju’syum, berhentilah sebentar aku mau bicara denganmu, dan aku berjanji tidak akan berbuat yang membahayakanmu!” Nabi menyuruh Abu Bakar menanyakan maksud Suraqah yang sebenarnya. Maka Suraqah menjawab, “Tuliskan sebuah surat yang dapat kami jadikan bukti antara aku dan kamu!” Amir bin Fuhairah segera menuliskan satu tulisan pada sepotong tulang atau pada selembar kulit. Nabi berkata pada Suraqah, “Bagaimanakah kalau anda kelak memakai perhiasan Kaisar Persia?” Apa yang diucapkan oleh Nabi ini ternyata menjadi kenyataan sewaktu kerajaan Kaisar Persia dapat ditumbangkan oleh kaum Muslimin di masa pemerintahan khalifah Umar bin Al-Khattab ra Pada waktu mahkota dan segala perhiasan Kaisar Persia diserahkan kepada Khalifah Umar, maka Baginda memanggil Suraqah bin Malik untuk diberi Mahkota dan perhiasan Kaisar Persia itu sebagai pemenuhan apa yang dijanjikan oleh Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam waktu itu.
Di tengah perjalanan, kafilah Nabi itu bertemu dengan perkemahan Ummi Ma’bad yang berdiri di tengah-tengah padang pasir. Di sisi kemah itu, Nabi melihat ada seekor kambing yang kurus dan sakit. Baginda pegang puting susu kambing itu, maka sambil berdoa baginda perah hingga keluarlah air susu dari kambing yang biasanya tidak bisa mengeluarkan.
Pada mulanya air susu itu diberikan kepada Ummi Ma’bad, kemudian diperah lagi buat rombongan yang ikut bersama baginda. Selanjutnya baginda perah lagi untuk diberikan pada suami Ummi Ma’bad yang ketika itu sedang menggembala kambing-kambingnya. Sehingga setibanya Abu Ma’bad, ia terperanjat melihat ada segelas susu yang terletak di atas mejanya. Ia bertanya pada isterinya mengenai asal muasal air susu dalam gelas itu. Kata Ummi Ma’bad, “Demi Allah, tadi ada seorang lelaki yang membawa berkat kemari, ia mempunyai akhlak yang tinggi sekali dan tutur katanya amat sopan pula.” Mendengar kisah Ummi Ma’bad itu, maka Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah aku harus menemui lelaki bangsa Quraisy yang sedang diburu oleh kaumnya itu.”
Demikianlah Nabi melanjutkan perjalanannya hingga Quba’ (pinggiran kota Madinah). Baginda sampai di sana tepat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul-Awwal yang merupakan hari pertama bagi sejarah Islam. Setelah itu Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam singgah di rumah Kultsum bin Hadam, lalu melaksanakan shalat Jumat di Bani Salim bin ‘Auf dan itulah shalat Jum’at pertama yang dilaksanakan dalam Islam.
Sesampainya di Madinah, Nabi sholallah alaihi was salam segera mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ untuk pergi ke Mekkah dengan bekal dua ekor keledai dan uang sebanyak lima ratus dirham, lalu mereka kembali bersama Fathimah binti Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam, Ummi Kultsum, Saudah binti Zam’ah, Usamah bin Zaid dan Ummu Aiman radhiyaalhu ‘anhum.
Isteri-Isteri Nabi Muhammad Sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam
Isteri-isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah sebagai berikut :
Khadijah binti Khuwailid ra. Beliau telah hidup bersama Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam sejak 15 tahun sebelum turun wahyu hingga tiga tahun sebelum Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam hijrah ke Madinah dan beliau wafat di sisinya.
Saudah binti Zam’ah ra. Beliau hidup bersama Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam hingga lanjut usia. Suatu saat Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam hendak menceraikannya, namun akhirnya dia rela untuk memberikan giliran harinya untuk ‘Aisyah ra dan dia berkata, “Wahai Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam, aku sudah tidak lagi memiliki ghirah terhadap laki-laki, namun aku ingin agar kelak di akhirat dikumpulkan bersama isteri-isteri engkau.” Di antara salah satu keistimewaannya adalah dia pernah menjadi isteri tunggal Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam selama tiga tahun setelah meninggalnya Khadijah dan dia meninggal dunia pada tahun lima puluh lima Hijriyah.
‘Aisyah binti Abi Bakar ra. Beliau menikah dengan Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam di Mekkah 2 tahun sebelum hijrah. Menurut sebagian riwayat 3 tahun sebelum hijrah. Pada saat itu ‘Aisyah berusia 6 atau 7 tahun dan beliau tinggal bersama Nabi di Madinah dalam usia 9 sembilan tahun. Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam meninggal dunia dalam pangkuannya dan pada saat itu ‘Aisyah berusia 18 tahun. ‘Aisyah ra meninggal dunia pada tahun 58 Hijriyah, namun menurut sebagian riwayat bukan pada tahun itu dan Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam tidak pernah menikah dengan seorang gadis kecuali dengannya dan dia dijuluki dengan Ummu Abdillah (karena dia telah memelihara Abdullah bin Zubair, putera Asma’ saudara perempuan ‘Aisyah, isteri Zubair bin Awwam).
Hafshah binti Umar bin Khathab ra. Diriwayatkan bahwa pada suatu saat Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam hendak menceraikannya, lalu Jibril datang kepadanya dan berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkanmu untuk kembali kepada Hafshah karena dia adalah wanita ahli ibadah dan berpuasa.” Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa kembalinya Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam kepada Hafshah adalah sebagai tanda kasih sayang Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam kepada Umar bin Khathab ra. Hafshah bintu Umar bin Khathab meninggal dunia pada tahun 45 Hijriyah, namun menurut riwayat yang lain bukan pada tahun itu.
Ummu Habibah binti Abi Sufyan ra. Beliau menikah dengan Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam ketika berada di Habasyah dan mas kawinnya adalah uang sebanyak empat ratus dinar, hadiah dari raja Najasi kepada Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dan yang menjadi wali dalam pernikahan tersebut adalah Utsman bin Affan ra. Ummu Habibah meninggal dunia pada tahun 4 Hijriyah.
Ummu Salamah Hindun binti Umayyah ra. Beliau meninggal dunia pada tahun 62 Hijriyah. Dia adalah isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang paling terakhir meninggal dunia, akan tetapi menurut riwayat yang lain bahwa isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang paling terakhir meninggal dunia adalah Maimunah ra.
Zainab binti Jahasy ra. Beliau meninggal dunia di Madinah pada tahun 20 Hijriyah. Dia adalah isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang pertama kali meninggal dunia setelah beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dan orang pertama yang mayatnya dibawa dengan keranda.
Juwairiyah binti al-Harits ra. Beliau adalah salah seorang tawanan perang dalam ghazwah Bani Mushthaliq, lalu Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam membebaskan dan menikahinya. Dia meninngal dunia pada tahun 56 enam Hijriyah.
Maimunah binti al-Harits ra. Beliau adalah bibi Khalid bin Walid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Dia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dan dia wafat pada tahun lima puluh satu Hijriyah, akan tetapi dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 66 Hijriyah.
Shafiyyah binti Huyai bin Akhthab ra, seorang wanita Yahudi dari keturunan Nabi Harun as. Beliau adalah salah seorang tawanan dalam perang Khaibar, lalu Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam memerdekakan dan menikahinya. Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam telah menjadikan kemerdekaannya itu sabagai mahar dalam pernikahan tersebut dan beliau wafat pada tahun lima puluh Hijriyah.
Zainab binti Khuzaimah ra, seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummul Masakin (ibunya orang-orang miskin). Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam telah menikah dengannya pada tahun 3 Hijriyah, namun usia pernikahan tersebut berjalan tidak lama, karena hanya dalam waktu dua atau tiga bulan dia meninggal dunia.
Demikianlah isteri-isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang telah bergaul dan hidup bersama beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam sesuai dengan dalil-dalil yang kuat. Makam mereka sangat terkenal yaitu di Baqi’ kecuali Sayyidah Khadijah ra dan Sayyidah Maimunah ra. Sayyidah Khadijah ra dimakamkan di Hujun Mekkah sedangkan Sayyidah Maimunah ra dimakamkan di Wadi Sarif, salah satu lembah dekat Mekkah.
Disamping itu, Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga pernah menikah dengan Fathimah binti Dhahhak. Namun ketika turun ayat Tahyir (perintah kepada isteri-isteri Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam untuk menentukan pilihan yakni Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam atau dunia), dia justru memilih dunia, dari pada Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam, maka Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam menceraikannya.Setelah peristiwa tersebut dia jatuh miskin, bahkan karena begitu miskinnya hingga sampai mencari sisa-sisa makanan di tempat-tempat sampah, dan dia mengatakan, “Aku adalah orang yang paling celaka, karena aku telah memilih dunia dan meninggalkan Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam.”
Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Syaraf saudara prempuan Dahiyah al-Kalabi ra. Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Khaulah binti al-Hudzail. Dalam riwayat yang lain disebutkan Binti Hakim. Dia adalah seorang wanita yang telah memberikan dirinya kepada Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam untuk dinikahi.
Akan tetapi menurut riwayat yang lain bahwa wanita yang telah memberikan dirinya kepada Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam untuk dinikahi adalah Ummu Syuraik. Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga pernah menikah dengan Asma’ binti Ka’ab al-Jauniyah ra, namun mereka semua telah diceraikan oleh Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam sebelum digauli.
Disamping itu, Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga pernah menikah dengan salah seorang wanita dari suku Ghifar, akan tetapi setelah Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam melihatnya berkulit putih yang sangat buruk, maka Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam mengembalikan kembali kepada keluarganya.
Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga pernah menikah dengan Umaimah, namun anehnya ketika Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam datang kepadanya, dia berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Maka Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam berkata kepadanya, “Semoga Allah Swt menjauhkan engkau dari orang yang engkau berlindung darinya. Kembalilah engkau pada keluargamu.”
Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga pernah menikah dengan Aliyah binti Dhabyan, akan tetapi akhirnya dia diceraikan oleh Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam ketika hendak dikumpulinya.
Rasulullah sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan puteri ash-Shalt, akan tetapi dia meninggal dunia sebelum dikumpuli oleh Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam. Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam juga pernah menikah dengan Mulaikah al-Laitsiyah. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa dialah wanita yang mengatakan kepada Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Lalu Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam menceraikannya. Pada suatu saat Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam pernah meminang seorang wanita kepada ayahnya, lalu dia pun segera menyebutkan segala macam sifat dan prilaku anak perempuannya itu kepada Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dan dia berkata, “Aku menambahkan satu hal lagi tentang anak perempuanku itu bahwa dia tidak pernah sakit.” Maka Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam berkata kepadanya, “Tidak ada kebaikan baginya di sisi Allah.” Lalu Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam meninggalkannya.
Kepada setiap wanita yang dinikahinya Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam telah memberikan mas kawin uang sebanyak lima ratus dirham kecuali Shafiyyah dan Ummu Habibah. Demikian menurut pendapat yang paling benar.
(Uraian As-Sayyid Al-Allamah Muhammad bin ‘Alawiy Al-Maliki Al-Hasani)

Kenalilah Nabimu

Apakah engkau benar-benar kenal Nabi-mu?
Yaitu kenal secara lahir dan batinnya, jasmani, maknawi dan rohaninya
Atau engkau hanya kenal secara lahir sahaja, tidak lebih daripada itu?!
Atau engkau kenal secara rambang saja?Sebenarnya kalau engkau kenal secara lahir dan batin, jasmani, rohaniahnya pribadi Nabimu
Pasti engkau jatuh hati kepadanya
Engkau akan cinta, engkau akan menyebut selalu namanya
Melalui selawat dan ingatan terhadapnya
Engkau akan terasa terhutang budi kepadanya
Karena kedatangannya dan jasanya kepada dunia
Muhammad SAW Nabimu…
Nabimu, Dia seorang manusia istimewa,
Luar biasa yang tiada taranya
Dia adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah Taala
Mari kita bercerita tentangnya secara ringkas agar engkau kenal Nabimu sendiri…
Siapa dia yang sebenarnya?
Dia adalah Muhammad anak Abdullah, ibunya Aminah
Bangsa Quraisy dari Bani Hasyim
Nasabnya hingga ke Nabi Ibrahim
Dia adalah anak yatim piatu..
Seorang anak yang tidak pernah dapat bermanja dengan ibu bapanya seperti orang lain
Dia lahir dari keluarga yang miskin dan dipelihara pula oleh keluarga yang miskin
Dia adalah makhluk yang pertama dan utama yang paling dicintai oleh Tuhan
Yaitu yang diberi nama Nur Muhammad
Dari Nur Muhammadlah seluruh yang ada dicipta dan diwujudkan
Syurga, Neraka, dunia, Akhirat, para malaikat, Arasy,
Kursi, Sirat, manusia, jin, hewan, jamadat dan lain-lainnya
Artinya kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW,
Yang lain tidak akan diwujudkan
Kalau begitu, rupanya Nabi kita membawa rahmat zahir dan batin
Kepada semua makhluk Tuhan
Dia adalah makhluk yang awal wujud nisbah ruh, yang akhir nisbah jasad di kalangan para nabi
Dia adalah satu-satunya Nabi yang diisrakkan dan dimikrajkan
Mukanya laksana bulan purnama karena cahayanya yang terang
Dia hamba Allah yang paling bertaqwa dan paling takut dengan Tuhan
Karena itulah dia dipanggil Habibullah oleh Allah
Ketua seluruh para rasul dan para anbiya
Penghulu seluruh orang yang bertaqwa
Imam seluruh manusia
Syariatnya untuk seluruh jin dan manusia dan penutup seluruh syariat
Orang yang memberi syafaatul kubra di Akhirat dan orang yang pertama masuk Syurga
Al Quran kitab yang diturunkan kepadanya paling lengkap
Merupakan mukjizatnya yang kekal dan paling agung
Tiada siapa yang dapat menirunya
Dia memiliki ilmu dunia dan Akhirat
Sekalipun dia tidak menulis dan membaca
Nabi kita mempunyai akhlak yang paling mulia dan tiada taranya
Bahkan lebih mulia dari para malaikat
Terutamanya kasih sayangnya kepada manusia begitu terserlah
Tawadhuknya atau merendah diri, pakaian pribadinya
Karena itulah dia sanggup duduk, makan, minum, tidur, baring dengan fakir miskin
Menziarahi orang sakit, mengiringi jenazah
Tiada seorang pun yang melihat mukanya melainkan jatuh cinta kepadanya
Bahkan seperti orang mabuk tidak dapat melupakannya
Sangat kasih dan simpati dengan fakir miskin, anak-anak yatim dan janda-janda
Pemurahnya laksana angin kencang yang sangat lajunya
Orang yang bergaul dengannya macam-macam dapat dirasa
Adakalanya laksana ibu dan ayah
Adakalanya seperti kawan yang membela dan setia
Adakalanya dirasakan guru
Adakalanya bagaikan pemimpin
Adakalanya bagaikan ketua tentara
Setiap orang yang semajelis dengannya merasakan dapat layanan yang memuaskan darinya
Karena akhlaknya yang tinggi dia dapat pujian dari Tuhannya
Keberaniannya luar biasa
Dia boleh lalu seorang diri di hadapan musuh-musuhnya
Tidak sedikit pun takut dengan raja-raja
Setiap orang yang meminta tidak pernah dikecewakan, sekalipun terpaksa berhutang dengan manusia
Ibadahnya banyak
Terutama sembahyangnya hingga bengkak-bengkak kakinya
karena terlalu lama berdiri di hadapan Tuhannya
Tidak pernah mendoakan musuh-musuhnya dengan kejahatan
Sangat suka meminta maaf dan memberi maaf kepada siapa saja
Dia membalas kejahatan orang dengan kebaikan
Satu perbuatan yang luar biasa
Tidak pernah menghina, mencaci dan merendah-rendahkan orang lain
Sangat pemalu dan merendah diri
Sangat menerima keuzuran orang
Sangat tahan menerima ujian yang berbagai-bagai keadaan dan bermacam-macam bentuknya
Karena itulah dia dapat menjadi ketua ulul azmi daripada keseluruhan para rasul alaihimussolatuwassalam
Dia suka kepada seseorang karena Allah dan murka juga karena Allah
Hatinya begitu jaga, matanya saja yang tidur tapi hatinya tidak tidur
Karena itulah dia tidur tidak membatalkan wudhunya
Di dalam hidupnya 74 kali berlaku peperangan, 27 kali dia ikut sama atau ikut serta
Tapi pelik, tidak pernah dia membunuh musuh-musuhnya walaupun seorang
Anak-anak didikannya itulah dia para Sahabat hingga dia berkata:
“Sahabat-Sahabatku laksana bintang-bintang di langit,
yang mana satu yang kamu ikut, kamu akan mendapat petunjuk.
Para ulama umatku laksana para-para nabi Bani Israil”
- julukan ini tidak didapati oleh umat-umat nabi sebelumnya
Karena menegakkan kebenaran, pernah dilemparkan dengan najis,
dilempar dengan batu hingga berdarah, dibuang daerah selama tiga tahun, dikepung, hendak dibunuh, berhijrah meninggalkan tanah air dan mendapat berbagai-bagai kesusahan dan penderitaan
Kemuliannya di sisi Allah Taala begitu ketara dan terserlah
Yaitu namanya ditampilkan dengan nama Tuhannya
Yaitu di dalam dua kalimah syahadah
Bahkan tidak sah Islam seseorang kalau tidak diucapkan namanya bersama dengan nama Tuhannya
Doa yang hendak dikabulkan, awal akhir kenalah menyebut namanya
Doanya sangat kabul, bahkan siapa yang berdoa bertawasul dengannya lebih diterima doanya
Siapa yang banyak berselawat dengannya diberi syafaat di Akhirat
Siapa yang selalu menyebut namanya diturunkan rahmat dan berkat
Mukjizat-mukjizatnya yang terlalu banyak menunjukkan kebenarannya
Tertulis di belikatnya khatamun nubuwwah
Peluhnya bak mutiara, wanginya lebih wangi daripada kasturi
Orang tidak dapat menentang matanya karena kehebatannya yang amat terserlah di wajahnya
Terutama musuh-musuhnya, pasti menundukkan pandangannya bila bertembung dengan pandangannya
Banyak perkara-perkara ghaib yang dibuka Allah Taala kepadanya
Sehinggakan sebagian perkara-perkara yang belum terjadi
Seperti peristiwa akhir zaman dapat diceritakannya
Terlalu kuat tawakalnya kepada Allah Taala
Hinggakan makanan yang berlebih tidak disimpan malamnya
Bahkan diberi kepada yang berhak
Apabila dia buang air, tidak ada kesannya selepas membuangnya
Lalat tidak pernah hinggap pada badannya
Kalau dia berpaling, dia berpaling dengan seluruh badannya
Tidak pernah makan seorang diri melainkan berkawan
Tidak pernah mencerca makanan
Kalau dia tidak suka, dia tidak makan-makanan itu
Sangat menghormati dan memuliakan tetamunya
Terlalu menjaga hak-hak jirannya sekalipun orang kafir
Terlalu mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri
Tidak pernah melaknat sekalipun binatang
Apa yang diperkatakannya ibarat mutiara
Karena itulah sangat mempengaruhi orang yang mendengarnya
Didikan dan pimpinannya sangat berjaya
Di antara kesan didikan dan pimpinannya yang telah berlaku yang telah dicatat dalam sejarah
Dapat melahirkan manusia yang sangat mencintai dan menakuti Allah Taala
Dapat menyatupadukan manusia yang berbagai-bagai etnik, puak, kaum,
bangsa dan yang berlainan warna kulit, bahasa dan budaya
Bahkan dapat menanamkan kasih sayang satu sama lain di kalangan manusia
Melahirkan manusia yang begitu taat dan patuh kepada syariat Tuhannya
Berjaya melahirkan manusia yang tinggi akhlak dan moralnya
Mampu menjadikan dunia bersih daripada noda dan dosa
Berjaya menjadikan setiap orang rasa berpuas hati di bawah naungan
pimpinannya sekalipun yang bukan Islam
Mereka merasakan dia adalah pelindung dan penyelamat kepada seluruh makhluk sekalipun binatang
Itulah dia Muhammad Rasulullah SAW
Itulah dia nabi kita, manusia luar biasa,
Yang istimewa kejadian dan akhlaknya paling sempurna, tiadatandingannya
Baru sedikit saja kita ceritakan tentangnya, sudah mengkagumkan kita
Apakah pribadi yang seperti ini kita tidak jatuh hati kepadanya?
Apakah manusia ini kita bisa melupakan begitu saja?
Apakah kita tidak terasa terhutang budi kepadanya?
Bahkan patut bersyukur kepadanya sepanjang masa
Dapatkah kita samakan dia dengan pemimpin-pemimpin yang lain didunia?
Jauh panggang dari api, macam langit dengan bumi
Lantaran itulah, orang yang benar-benar kenal Nabinya bersama Tuhannya, sanggup mati karenanya.
Patut sangatlah dia menjadi idola dan ikutan kita
Agar kita menjadi satu bangsa yang bertuhan, merdeka, bersatu,
berakhlak mulia, bertamadun, berkasih sayang, bertolong bantu,
berharmoni, bermaruah, bersih dari noda dan dosa
Allah dan Akhirat menjadi matlamat hidup kita….
Sumber : oleh Sheikh Abuya Ashaari Muhammad

Pohon Berjalan Menyambut Panggilan Rasulullah SAWW


Oleh : Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Bin ‘Abbas Al-Maliki al-Hasani


Rukanah bin ‘Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin “Abdi Manaf adalah orang yang paling kuat tenaganya di kalanagan kaum Quraisy. Pada suatu hari di suatu tempat di Makkah ia berada sendirian dengan dengan Rasullullah saw.
Beliau saw berkata kepadanya, “Hai Rukanah, alangkah baiknya jika engkau takut kepada Allah dan mau menerima ajakanku (memeluk Islam).”
Ia menjawab, “Kalau aku tahu bahwa yang kau katakana benar tentu engkau sudah kuikuti!”
Rasulullah saw. Berkata lagi, “Bagaimana sikapmu jika engkau aku jatuhkan, apakah engkau mau tahu bahwa apa yang kukatakan benar?”
Rukanah menjawab, “Baiklah!”
Rasulullah saw. Berkata, “Ayo mendekat, engkau akan kurobohkan!”  Rukanah mendekat kemudian Rasulullah saw. Mengunci tubuh Rukanah dan menjatuhkannya di atas tanah dalam keadaan tidak berdaya.
Tetapi Rukanah tidak puas dan mau mencoba sekali lagi. Dia berkata, “Mari kita ulang!” Setelah Rukanah bangun, segera Rasulullah saw. Memitingnya dan merobohkannya lagi.
Dengan heran Rukanah berkata kepada Rasulullah saw., “Hai Muhammad, sungguh aneh sekali. Bagaimana engkau dapat merobohkannku!”
Beliau menjawab, “Ada yang lebih aneh dari itu. Jika engkau mau menundukkan diri dan takut kepada Allah serta menuruti perintahku, akan kuperlihatkan kepadamu yang jauh lebih aneh daripada itu.
“ Rukanah bertanya, “apakah itu?”
Beliau menjawab, “Pohon yang kau lihat itu akan kupanggil datang mendekatiku.”
“Coba panggil dia!” Kata Rukanah. Rasulullah saw. Kemudian memanggil pohon itu  yang kemudian bergerak sampai berada di hadapan beliau. Beberapa saat kemudian Rasulullah saw. Memerintahkan pohon itu untuk kembali ke tempat semula. Dan benar, pohon itu segera kembali ke tempat semula.
Rukanah pulang ke tengah kaumnya (kaum Musyrik Quraisy)  lalu berseru, “Hai Bani ‘Abdi Manaf, teman kalian itu (yakni Muhammad Rasulullah saw). Sanggup menyihir semua penghuni bumi ini. Demi Allah, saya tidak pernah melihat ada tukang sihir sehebat dia!” Kemudian Rukanah menceritakan apa yang baru saja dia saksikan dan dia alami. Beberapa lama kemudian dia memeluk agama Islam dan menjadi sahabat Nabi.
Sumber : Buku Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad SAW ( Alhawaadits wa al ahwaal an Nabawiyyah) [Karya : Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Bin ‘Abbas Al-Maliki al-Hasani Penerbit : Darul Hidayah Hal 25-26 ]

Rasulullah SAWW dan pengemis yahudi yang buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.
Setiap pagi Rasulullah s.a.w mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w  wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah rha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah rha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah itu?”, tanya Abu bakar ra. Setiap pagi Rasulullah s.a.w selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah rha.
Keesokan harinya Abu bakar ra pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu bakar ra mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu bakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu ?”. Abu bakar ra menjawab, “Aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu bakar ra tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu bakar ra ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu bakar ra..subhanallah..

Nama-nama Nabi Muhammad SAWW

Oleh : Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Bin ‘Abbas Al-Maliki al-Hasani
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda berkenaan dengan nama-nama beliau : “Aku  adalah Muhammad,aku adalah Ahmad dan al-Mahi (penghapus) yang dengannya Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Hasyir (pengumpul) yang dengan jejakku Allah mengumpulkan umat manusia. Aku adalah al-‘Aqib (Pamungkas) karena tak ada nabi lagi sesudahku”. Dalam sebuah riwayat: “Aku adalah al-Muqaaffa (yang ditakuti),aku adalah Nabi at-Taubah dan Nabi ar-Rahmah”.Dalam shahih Muslim: “Nabi al-Mulhimah”.
Alquran al-Karim menyebut beliau dengan beberapa sebutan: Basyir (pembawa kabar gembira),Nadzir (pemberi peringatan), Siraj al-Munir (Pelita Penerang),Ra’uf (Penyantun),Rahim (penyayang),Rahmatan lil-‘alamin (Rahmat bagi alam semesta), Muhammad,Ahmad,Thaha,Yasin,Muzzammil (Orang yang berselimut), dan ‘Abdullah (hamba Allah):yaitu sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Jinn ayat 19 : yang artinya:
…Dan bahwasanya ketika Abdullah —yakni Muhammad saw.—-berdiri berdoa Kepada-Nya….
Dalam ayat tersebut Allah menyebut beliau dengan sebutan ‘abdullah (Hamba Allah). Nama beliau yang lain lagi adalah An-Nadzir al-Mubin (orang yang memberi peringatan dengan jelas dan terang), yaitu sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Hijr ayat 89 yang artinya ; Dan katakanlah (Hai Nabi), “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan Yang jelas.”
Sedangkan nama beliau “Mudzakkir”adalah seperti diungkap dalam Alquran (QS 88;21 ) yang artinya ; Sesungguhnya engkau adalah pemberi peringatan (Mudzakkir).
Disamping nama di atas, juga disebutkan beberapa nama dan sifat Nabi Muhammad saw. Yang lain.
Sumber : Buku Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad SAW ( Alhawaadits wa al ahwaal an Nabawiyyah) [Karya : Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Bin ‘Abbas Al-Maliki al-Hasani Penerbit : Darul Hidayah Hal 20-21]

Kumpulan Mahalul Qiyam MP3

Al Quran Online